Oleh-oleh dari Negeri Jiran

Sebagai kota jasa (city of service), para pengelola Surabaya paham betul arti penting investor bagi pertumbuhan dan perkembangan kota ini. Demi meraih minat para penanam modal itulah, Wawali Arif Affandi sampai perlu melakukan kunjungan ke Malaysia 16 Maret silam. Dalam kunjungan yang ditujukan untuk memasarkn Surabaya itu, Arif membawa rombongan yang cukup representatif. Mereka yang termasuk dalam rombongan di antaranya Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya, Muhammad Rudiansyah, Henky Kurniadi (pengusaha real estate), Yusak Anshori (Direktur Eksekutif Surabaya Tourism Board), Najib AR Bahasuan (direktur marketing perusahaan sarung Behaestek) dan Freddy Pangkey (pengusaha cat). Selain itu, turut serta dalam rombongan Kresnayana Yahya (pakar statistik dari ITS), Muhammad Selim (Direktur PDAM), dan Togar Arifin Silaban (Kabid Fisik dan Prasarana Bappeko).

Kenapa Malaysia yang dijadikan jujugan juga didasarkan atas pertimbangan yang masuk akal. Selain karena kedekatan kultural dan kemudahan akses ke sana (bahkan, kunjungan kali ini pun atas undangan pemerintah setempat, red), juga tak lepas dari perkembangan ekonomi Malaysia yang pesat (17/3). Di Malaysia, Arif dan rombongan aktif melakukan lobi-lobi dengan para pengusaha setempat. Paling tidak, ada tiga bidang yang diprioritaskan untuk dipromosikan, yaitu pembangunan infrastruktur pariwisata, pendidikan dan kesehatan. Peluang untuk mendulang Ringgit dari tanah jiran semakin terbuka lebar.

Kunjungan Wawali dan rombongan itu dimuat secara berseri oleh salah satu media lokal kota ini. Karenanya, publik tentu bisa menilai bahwa kunjungan itu bukanlah kunjungan yang mengada-ada, apalagi sia-sia. Namun di sini kita tidak akan membicarakan aktivitas Wawali selama di Malaysia. Lebih dari itu, dalam kolom ini kita memberi apresiasi sekaligus ekspektasi yang besar dari kunjungan tersebut.

Selama ini, berbagai bentuk kunjungan kerja yang dilakukan oleh para pejabat publik, apalagi yang sampai ke luar negeri, selalu menuai prasangka buruk dari masyarakat. Dari cap sebagai kegiatan menghambur-hamburkan uang sampai ngelencer berkedok kerja. Semoga, dalam kunjungan kali ini, semua stigma itu pupus, karena publik berharap kunjungan itu dapat memberi manfaat yang nyata bagi Surabaya dan warganya.

Jauh sebelum kunjungan ini, Surabaya telah berulangkali menjalin kerjasama dengan kota-kota di negeri sebrang. Kerjasama intercity dengan Seattle di Amerika Serikat dan Kochi di Jepang, misalnya yang ternyata kurang efektif dan optimal, sementara ongkosnya terlalu mahal. Karenanya, momen ini dapat dijadikan tonggak untuk membangun image baru bahwa studi banding adalah kegiatan positif dan banyak manfaat. Persepsi hanya bisa dibangun jika pengelola kota berkenan menjelaskan hasil kunjungan di Malaysia itu untuk kemudian menyelesaikan tahapan tindak lanjutnya. Di tengah kompleksitas problem kota yang menggerogoti Surabaya saat ini, langkah awal komunikasi dialogis pejabat publik-warga kota seperti itu dapat menjadi pelepas dahaga di tengah kegersangan public trust. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: