Mencari Solusi Kemacetan Kota

Sebagai kota metropolis, Surabaya dihadapkan pada ketakberdayaannya dalam membendung arus kaum urban yang berbondong-bondong menyerbu Surabaya guna mengais rejeki. Pada gilirannya, urbanisasi itu membawa dampak yang signifikan bagi dinamika kota ini. Salah satunya adalah permasalahan transportasi, yang berwujud kemacetan,yang tak kunjung usai.

Kemacetan di Surabaya saat ini bahkan telah mencapai tahap yang mengganggu. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota, total jumlah kendaraan roda dua dan empat pada tahun 2004 telah mencapai 1.097.900 unit, dan pada tahun 2005 diperkirakan berjumlah 1.190.000 unit, atau tumbuh sebesar 8,3 persen setahun. Sementara, jumlah pertumbuhan jalan dalam 5 tahun terkahir 0 persen. Karena itulah, upaya membenahi kemacetan lalu lintas di kota ini menjadi tidak mudah. Salah-salah, upaya itu bagaikan memencet balon. Kemacetan di satu sisi dapat teratasi, tetapi di sisi yang lain muncul masalah baru yang tak kalah pelik.

Beberapa tahun belakangan, dapat kita lihat beragam upaya yang telah ditempuh pemerintah kota guna mengatasi problem transportasi tersebut. Kanalisasi telah diperkenalkan sejak tahun 2003. Moda transportasi kereta api pun ikut dilirik dengan mengembangkan sistem kereta api komuter. Namun, kemacetan jalan-jalan kota tak kunjung berkurang. Kendati kapasitas terisi KA komuter Surabaya-Sidoarjo mencapai 90% dari kapasitas total sebanyak 600 penumpang, toh kemacetan jalan raya masih menghiasi ruas-ruas jalan utama Surabaya-Sidoarjo. Lihat saja kondisi kemacetan di sekitar Waru dan Jl. A. Yani pada pukul 06.30-09.00 dan 15.00-18.00.

Berkaca dari kondisi tersebut, beragam wacana dan solusi pun diluncurkan. Dari pembangunan tol tengah kota, penerapan busway, system monorail, hingga pengaturan jam kerja. Semuanya masih menjadi tanda tanya. Busway misalnya, yang akan diterapkan Pemkot Surabaya pada tahun 2007 nanti juga masih diliputi pro-kontra. Banyak pihak yang meragukan efektivitas system ini, melihat space jalan di Surabaya yang tak selebar Jakarta. Pemkot pun berdalih bahwa penerapan konsep busway tidak ditentukan oleh space jalan, melainkan tergantung pada mindset di otak manusia dalam melihat space jalan tersebut. Namun, pertanyaannya mampukah pemerintah kota merubah mindset warga kota Surabaya?

Di tengah polemik dan carut marut kondisi transportasi kota ini, semua pihak boleh jadi sepakat bahwa pengalihan moda transportasi adalah yang paling mungkin dilakukan untuk mengurangi kemacetan. Dengan demikian, jumlah kendaraan, utamanya kendaraan pribadi, yang melintasi ruas-ruas jalan kota dapat dikurangi. Karena itu pula, pengembangan moda transportasi publik harus mampu mengakomodasi kebutuhan para pengguna kendaraan pribadi. Dalam rangka mendukung mengapresiasi kepentingan publik, alternatif moda transportasi apa pun yang hendak diterapkan, lebih berpeluang untuk menekan masalah kemacetan kota. Sesungguhnya Study SITNP (Surabaya Integreated Transport Network Planning) tahun 1998 telah memberikan urutan rekomendasi yang lengkap tentang urutan operasionalisinya, tinggal mengadakan review sederhana seiring dengan perobahan yang terjadi pada 8 tahun terakhir ini. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: