Masih tentang Reklame

Isu seputar penataan reklame masih menggelinding hangat, dari polemik tentang SPW sampai pada carut-marut tata reklame itu sendiri. Hingga akhirnya, Walikota Surabaya, Bambang DH pun memberi janji untuk menertibkan reklame-reklame bermasalah yang melanggar jalur-jalur penataan. Tidak berhenti di situ, Pemkot juga akan memburu reklame-reklame nakal yang mencuri ukuran. Perombakan Tim Reklame pun ikut disoal guna menciptakan tata reklame yang baik di kota ini (10/3).

Namun, upaya menata reklame yang telah kadung tumbuh “liar” bukan pekerjaan sederhana. Pada tataran teknis, Satpol PP Kota Surabaya masih dibelit kendala kekurangan dana. Karena itulah Plt Kepala Satpol PP, Utomo, mengakui jika pihaknya baru mampu menertibkan 7 titik dari 14 titik reklame yang dianggap melanggar. Menertibkan reklame bermasalah ternyata cukup menguras anggaran. Betapa tidak, menurut Utomo, untuk satu kali membongkar reklame, pihaknya menghabiskan anggaran Rp. 8 juta (10/3). Kalikan saja dengan jumlah total reklame yang harus diberangus. Kebayangkan besarnya anggaran yang dibutuhkan?

Itu baru pada tataran teknis. Pada tataran kebijakan, komitmen pengelola kota untuk membenahi manajemen reklame masih menjadi tanda tanya besar. Tidak heran jika Arifli Harbianto, anggota Komisi B DPRD Kota memberi julukan “esuk dele sore tempe” (4/3) guna menggambarkan inkonsistensi mereka atas keputusan-keputusan yang telah dikeluarkan.

Inkonsistensi ini tampak pada pemasangan iklan bando di Jalan Pemuda. Padahal, sesuai dengan SK No. 1/2005 tentang Penataan Reklame, kawasan Jl. Pemuda hanya diperuntukkan bagi jembatan penyeberangan orang. Namun, nyatanya terbit juga SPW pendirian dua iklan bando yang saat ini berdiri megah di sana. Itu baru pelanggaran di Jl. Pemuda, belum lagi yang terjadi di Jl. Yos Sudarso, Gubernur Suryo, Panglima Sudirman, Embong Malang, Blauran, Tunjungan, dan kawasan H.R. Muhammad (4/3). Yang lebih membuat miris, di tengah hangatnya polemik ini, Pemkot masih mengeluarkan izin pendirian reklame baru. Dalam waktu dekat ini, dua reklame bakal segera dibangun yang berlokasi di Jl. A. Yani dan Jl. Indrapura. Keduanya dibangun di atas jalur hijau (10/3).

Inilah ironi Surabaya. Ibarat pepatah, lidah memang tak bertulang, para pejabat kota begitu gampang mengumbar janji yang seringkali diingkari. Di tengah mahalnya kepercayaan publik kota, seharusnya mereka (baca: pemerintah kota) bersikap lebih bijak atas janji-janji yang mereka berikan. Bukanlah lebih arif jika mereka betul-betul berkomitmen dengan membuat perencanaan tata reklame yang matang, menjalankannya sepenuh hati, dan mengawasi implementasinya dengan intens agar penyimpangan-penyimpangan dapat ditekan seminimal mungkin? Surabaya, oh, Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: