Mimpi-Mimpi Surabaya

Kota Surabaya sedang bermimpi. Tak cuma satu, kota ini punya banyak mimpi dalam berbagai aspek kehidupan kotanya. Berbagai persoalan yang mengharu biru di kota ini, mengantarkan Surabaya pada berbagai solusi-solusi besar guna mengatasinya. Terkadang, solusi itu tampak sebagai sebuah utopia. Itu kenapa Surabaya menjadi kota pemimpi. Mimpi-mimpi yang tak jarang memantik kontroversi.

Guna meningkatkan efektifitas serta efisiensi kinerja jajarannya, Pemkot merestrukturisasi birokrasinya. Birokrasi disusun seramping mungkin dengan efisiensi dan efektivitas kerja yang lebih tinggi dari yang ada sebelumnya. Namun, kenyataan berbicara lain. Anggaran belanja aparatur dalam APBD Kota yang diajukan oleh pemerintah dalam RAPBD 2006 belum menunjukkan pengurangan yang signifikan. Belum lagi penggabungan dinas yang ternyata malah kontraproduktif. Lihat saja penggabungan Dinas Tata kota dan Dinas Bangunan yang secara langsung telah menghilangkan build in control atas pelaksanaan program pembangunan. Pemisahan aktivitas (division of activity) pun menjadi kabur.

Selain itu, guna mengatasi carut-marut persoalan transportasi, pengelola kota ini pun pernah menelorkan mimpi memiliki moda trnasportasi massal yang murah dan nyaman dalam bentuk busway. Namun, nyatanya kehadiran busway lebih banyak masih berada pada tataran angan-angan dan bukan kenyataan. Meskipun demikian,  tak urung, program ini telah memancing perdebatan. Pertanyaan menyeruak, apakah betul program busway tersebut dapat mengatasi ruwetnya persoalan transportasi Kota Surabaya? Atau jangan-jangan program itu malah semakin memperparah permasalahan transportasi itu?

Dalam bidang pendidikan, kota ini pun merasa perlu bersusah-susah menyusun sebuah Grand Design Pendidikan Kota Surabaya Menuju Tahun 2020,  yang telah diterjemahkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya ke dalam program jangka menengah yang lebih rinci dan lebih berjangka pendek, Master Plan Pendidikan Kota Surabaya tahun 2006-2010. Target yang diusung pun begitu luar biasa. Ada lima program strategis dalam grand design itu. Yang pertama, pemerataan mutu pendidikan. Kedua, peningkatan kebermaknaan pendidikan. Ketiga, peningkatan profesionalisme guru dan persebaran serta distribusi guru yang berkualitas secara merata. Keempat, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Serta kelima, peningkatan mutu manajemen pendidikan.

Namun sekali lagi, kota ini lupa dengan kondisi riil dunia pendidikannya. Jangankan bicara tentang kualitas pendidikan, infrastruktur pendidikan yang ada di kota ini masih jauh dari cukup. Gedung-gedung sekolah masih miskin fasilitas dan banyak yang rusak. Jumlahnya pun tak sedikit, ada sekitar 1. 728 sekolah yang rusak (27/02). Begitu juga dengan tenaga pendidiknya. Masih banyak guru bantu di kota ini yang berharap-harap cemas akan masa depan pekerjaannya.

Sekali lagi, kota ini bermimpi untuk memiliki satu lagi rumah sakit yang dikelola oleh Pemkot. Tak tanggung-tanggung, dana yang dikucurkan untuk mewujudkan rumah sakit itu memcapai Rp. 73,9 miliar. Padahal, pada saat yang sama, RS. Dr. Soewandhi merintih dengan minimnya fasilitas dan anggaran yang ada. Belum lagi kondisi puluhan puskesmas yang tersebar di seantero Surabaya. Sampai kapan Surabaya akan terus bermimpi? Tak ada salahnya kita bermimpi, karena sesungguhnya, semua kemajuan berawal dari sebuah mimpi. Hanya saja, mimpi itu harus mimpi yang logis. Mimpi yang berakar pada kenyataan yang ada. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: