Urgensitas Rumah Sakit Baru

Pemerintah Kota Surabaya akan membangun rumah sakit baru di kawasan Surabaya senilai Rp. 73,9 miliar. Ada dua lokasi alternative dibangunnya rumah sakit itu, yaitu di Asemrowo atau Benowo. Anggaran yang begitu besar untuk pembangunan rumah sakit itu meliputi pekerjaan penyiapan lahan, pekerjaan bangunan induk, bangunan penunjang, pekerjaan fasilitas, pembuatan dan pengadaan perabot, pengadaan peralatan medis dan biaya jasa konstruksi.

Namun, tentu saja, anggaran terbesar ada pada pekerjaan bangunan yang diperkirakan menghabiskan dana sejumlah Rp. 26 miliar. Kedua adalah pengadaan peralatan medis yang mencapai Rp. 25 miliar. Anggaran ini akan dimasukkan lewat PAK 2006 sementara peletakan batu pertama akan dilakukan pada April 2007 dan ditargetkan selesai pada tahun 2008. Direncanakan rumah sakit baru itu nanti akan sekelas dengan RSUD dr. Soewandhi.

Ide untuk mendirikan rumah sakit baru ini menarik untuk dikaji, terutama jika dikaitkan dengan komitmen pemerintah meningkatkan pelayanan kesehatannya. Namun, satu pertanyaan menyeruak, apakah pemerintah perlu membangun rumah sakit baru? Pertanyaan ini muncul dilatari oleh kondisi fasilitas-fasilitas kesehatan yang dikelola Pemkot saat ini ada di seantero Surabaya, yang dapat dikatakan mengenaskan. Rumah Sakit dr. Soewandhi salah satunya.

Meski gedungnya bagus, namun fasilitas yang dimilikinya sangat minim. Lihat saja jumlah tempat tidur bagi pasien inap yang hanya berjumlah 95 unit. Akibatnya, rumah sakit sering menolak pasien 30 hingga 35 orang setiap harinya (25/02). Bahkan, karena minimnya ranjang untuk pasien, banyak pasien yang terpaksa dirawat di ruang UGD (Unit Gawat Darurat).

Dampak lainnya adalah pihak rumah sakit tidak sempat membersihkan tempat tidur karena selalu terisi pasien. Seharusnya tempat tidur tersebut disterilkan agar terbebas dari kuman. Karena tak bisa dilaksanakan, kemungkinan besar pasien akan terkena infeksi yang berasal dari tempat tidur. Itu baru salah satu kasus di rumah sakit terbesar yang dikelola pemerintah kota saat ini. Bagaimana lagi dengan kondisi puskesmas-puskesmas di seluruh Surabaya, yang kadang terselip dari pantauan kita? Kondisinya barangkali tidak jauh lebih baik.

Berangkat dari realita ini, apakah keputusan pengelola kota untuk membangun rumah sakit baru lagi sudah benar-benar bijak? Apakah tidak lebih baik jika anggaran sebesar itu digunakan untuk merevitalisasi dan mengoptimalkan pelayanan fasilitas-fasilitas kesehatan yang sudah ada saat ini?Jika memang kebutuhan akan rumah sakit baru itu benar-benar mendesak, haruskah pemerintah yang merealisasikannya? Tidakkah lebih bijak jika pemerintah menggandeng investor guna mewujudkan pembangunan rumah sakit itu? Apalagi jika dikaitkan dengan paradigma pembiayaan pembangunan saat ini yang tidak lagi melulu mengedepankan biaya dari APBD.

Jika pemerintah masih berpikir untuk membangun sendiri semua fasilitas pelayanan publik bagi warga kota, kita juga harus jujur, sampai seberapa besar kemampuan anggaran pemerintah untuk itu. Jika pola ini masih diteruskan, jangan heran jika pemeliharaan berbagai fasilitas itu menjadi terbengkalai karena anggarannya sudah tersedot habis. Saatnya pemerintah menjadi lebih responsif terhadap potensi kota ini dengan menggandeng investor secara “bijak” untuk ikut serta membangun Surabaya. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: