Akhir Terminal Purabaya?

Nasib Terminal Purabaya diujung tanduk. Hal ini terkait dengan polemik yang berkembang antara Pemkot Surabaya dan Pemkab Sidoarjo soal ketidakpuasan Pemkab atas bagi hasil pendapatan terminal. Menurut Pemkab, bagi hasil atas keuntungan bersih yang diterima Pemkab Sidoarjo hanya 30% dari hasil keuntungan terminal per tahun (21/02). Di mata Pemkab, persentase sebesar itu tidak sebanding dengan limpahan persoalan yang harus mereka hadapi. Tidak hanya soal lahan yang menjadi masalah, tetapi juga imbas dampak sosial Terminal pada masyarakat Sidoarjo.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Perhubungan Surabaya, Mas Bambang Suprihadi, pembagian yang diterima Surabaya untuk keuntungan bruto yang diterima Sidoarjo adalah 30% sedangkan 40% untuk PAD Surabaya, dan 30% untuk operasional terminal. Itupun, lanjut Bambang Suprihadi, Surabaya hanya menerima netto bukan bruto seperti Sidoarjo karena dipotong banyak retribusi dan pajak (21/02).

Memang, di balik manfaat yang telah diberikannya, Terminal Purabaya pun menyisakan masalah. Yang paling utama tentu persoalan sosial yang muncul sebagai dampak keberadaan terminal ini. Setelah beroperasi selama hampir 13 tahun, Terminal Purabaya berkembang layaknya terminal-terminal lainnya di Indonesia, lengkap dengan potret buramnya sebagai kawasan yang “keras”. Praktik percaloan dan premanisme menjamur, seiring dengan semakin banyaknya orang yang berlalu-lalang di terminal. Terminal Purabaya pun tumbuh menjadi kawasan yang rawan kriminalitas. Terminal ini ikut menjadi saksi atas berbagai kisah pilu orang-orang polos yang diperdaya di sana. Keberadaannya lambat laun mengakibatkan daerah-daerah di sekitarnya ikut menerima limpahan masalah-masalah sosial. Atas dasar ini pula, Pemkab Sidoarjo meminta bagi hasil yang lebih besar.

Namun, alangkah ironisnya jika polemik soal bagi hasil ini menjadi akhir kisah Purabaya. Terlebih untuk membangun kembali sebuah terminal besar tipe A seperti Purabaya, bukan perkara mudah. Terminal dalam sistem transportasi berperan sebagai simpul yang mengatur arus kendaraan dan manusia yang melintas di jalan raya. Karena itu, untuk membangun sebuah terminal memerlukan pertimbangan yang matang dan komprehensif, mengingat peliknya masalah transportasi beserta kompleksitas persoalan yang terkandung di dalamnya. Perencanaan, penentuan lokasi beserta manajemen terminal diarahkan untuk menunjang kelancaran arus transportasi yang aman, nyaman, dan efisien.

Karena itu, polemik ini sesungguhnya dapat dijadikan momentum yang baik bagi kedua daerah untuk meredefinisikan kembali hubungan kerjasama Surabaya-Sidoarjo demi mencapai win-win relationships. Saatnya bagi Pemkot Surabaya dan Pemkab Sidoarjo untuk duduk bersama mencari solusi terbaik guna meningkatkan pelayanan publik bagi kemaslahan penduduk Surabaya-Sidoarjo. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: