Reklame Roboh Tanggung Jawab Siapa?

Penataan reklame di Surabaya ternyata masih amburadul. Mimpi kota ini untuk mempercantik wajahnya dengan reklame-reklame yang mempesona masih jauh dari angan-angan. Malah yang ada, reklame-reklame yang bertebaran di seantero Surabaya justru menambah buram wajah kota. Tak jarang, reklame-reklame itu juga menjadi biang bencana jika turun hujan lebat yang disertai angin kencang. Cukup banyak reklame tumbang berikut kerugian yang telah ditimbulkan.

Akhir-akhir ini, kabar tak sedap seputar reklame muncul lagi, terutama pasca dimunculkannya kembali reklame bando dalam raperda yang kini masih dibahas di DPRD. Kontroversi pun merebak. Ada yang pro, tapi tak sedikit pula yang kontra. Padahal, pada era Walikota Soenarto Sumoprawiro, reklame bando jelas-jelas menjadi “barang haram” di Surabaya.

Namun kini, reklame itu mulai hadir kembali. Kecurigaanpun merebak jika bakal diizinkannya kembali reklame bando di Surabaya tak lebih dari hasil kong kalikong oknum-oknum penjabat yang tergabung dalam tim reklame. Dengan dalih ingin mendongkrak PAD (Pendapatan Asli Daerah), reklame bando kembali diusulkan. Raperda tentang reklame pun disusun slintihutan (21/02).

Tengara ini mencuat setelah Wawali Arif Afandi menyatakan ketidaktahuannya soal isi raperda reklame tersebut. Bahkan, ia menegaskan jika tidak pernah mendapat laporan apapun tentang raperda yang kini pembahasannya sudah memasuki pasal-pasal akhir itu (21/02). Padahal, dalam jalur birokrasi pemkot, jabatan yang disandangnya adalah salah satu posisi yang seharusnya mendapat laporan soal reklame.

Tak pelak, pernyataan Arif ini memantik rumor tak sedap bahwa Wawali ditilap anak buahnya yang tergabung dalam tim reklame. Dan Wawali pun tidak sendirian, Walikota Surabaya juga. Beberapa waktu sebelumnya, Walikota Bambang DH juga pernah memberikan statement bahwa ia tidak tahu persis semua persoalan yang terjadi di Surabaya, termasuk di dalamnya soal reklame (20/02).

Kalau begini ceritanya, tak salah jika publik Surabaya diliputi tanda tanya. Masih hangat di benak kita beberapa waktu lalu, walikota bahkan sempat “sambat” karena instruksinya tentang penertiban brandgang tidak segera mendapat respon dari jajaran di bawahnya, bahkan terkesan diabaikan. Kalau benar demikian yang terjadi, bagaimana nasib kota ini ke depan? Karena tidak mungkin kota ini dapat membangun dengan optimal jika manajemen internal pengelola kota masih carut-marut, dengan berbagai informasi yang hilir mudik dan tumpang tindih “tanpa bisa dipertanggungjawabkan”. Surabaya..oh, Surabaya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: