Terminal dan Wajah Masyarakat Surabaya!

Ada yang kontradiktif dari Surabaya. Kota ini telah mendeklarasikan dirinya sebagai kota jasa, alias city of service. Namun, mimpi untuk memperoleh servis yang memuaskan di kota buaya ini masih jauh dari angan-angan. Alih-alih mendapat aplaus, layanan jasa kota ini malah mendulang umpatan dan keluh kesah.

Kali ini, keluh kesah itu berasal dari pengguna jasa terminal penumpang yang ada di kota ini. Lihat saja gerutuan yang keluar dari para calon penumpang di Terminal Purabaya dan Bratang, dua terminal besar yang ada di kota ini. Di Purabaya, sejumlah penumpang dari luar kota mengeluh tak nyaman. Mereka takut saat tiba di tempat penurunan penumpang. Begitu bus antarkota dan antarpropinsi tiba, puluhan sopir taksi, sopir lin, angguna dan lainnya langsung menghadang penumpang yang datang. Mereka menarik tas milik para penumpang.

Walaupun tas tidak dilepaskan, para sopir tersebut tetap menarik tas sambil menanyakan tujuan penumpang. Meskipun penumpang menolak penawaran jasa taksi, mereka tetap ngotot akan mengantarkan. Beberapa petugas Dinas Perhubungan Kota Surabaya yang melihat kejadian itu hanya diam tak berbuat apa-apa. Demikian liputan salah satu media lokal kota ini, Senin, 13/02.

Masih dari media yang sama (14/02), di Terminal Bratang penumpang angkutan kota pun mengaku resah. Keresahan penumpang disebabkan perilaku sebagian sopir lin yang menarik ongkos sebelum berangkat. Biasanya lin harus ngetem di terminal sambil menunggu penumpang penuh. Saat penumpang sudah naik, mereka dimintai ongkos terlebih dahulu. Akibatnya mereka harus menunggu karena sudah membayar. Jika penumpang tidak sabar dan akan mencari angkutan lain, ongkos yang sudah dibayarkan tidak bisa diminta. Praktik ini sudah berlangsung lama di Terminal Bratang. Beberapa petugas terminal juga mengetahui hal itu tapi tidak mengambil tindakan apapun.

Terminal dalam sistem transportasi berperan sebagai simpul yang mengatur arus kendaraan dan manusia yang melintas di jalan raya. Karena itu, untuk membangun sebuah terminal memerlukan pertimbangan yang matang dan komprehensif, mengingat peliknya masalah transportasi beserta kompleksitas persoalan yang terkandung di dalamnya. Perencanaan, penentuan lokasi beserta manajemen terminal diarahkan untuk menunjang kelancaran arus transportasi yang aman, nyaman, dan efisien.

Namun, fungsi terminal pun ikut berkembang. Terminal, dengan segala potret buramnya, juga dipandang sebagai gudang kejahatan, simbol ketidakadilan dan ketidakberpihakan pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Kota Surabaya, terhadap warga miskin. Tak salah, jika Dwe Gde Satrya dalam salah satu kolom opininya (11/09/05) melihat terminal sebagai indikator kualitas hidup dan kualitas manusia di dalamnya.

Kalau sudah demikian, apakah kita akan menerima begitu saja gambaran potret manusia Surabaya saat ini? Apakah keramahtamahan sudah hilang dari hati publik kota ini? Semoga tidak, karena sesungguhnya budaya arek yang berkembang pada masyarakat kita justru penuh dengan egalitarianisme dan relasi sosial yang hangat di antara sesama. Namun, sepertinya kerasnya tuntutan hidup sedikit demi sedikit mengikis esensi budaya arek itu. Apakah yang tersisa hanya sikap yang keras dengan individualisme yang semakin tinggi? Surabaya..oh, Surabaya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: