Mimpi Surabaya Kota Wisata

Ada yang menarik dari pertanyaan Francois Perrinet, staf Pusat Kebudayaan Perancis (CCCL) Surabaya tentang pariwisata kota ini (4/2). “Apa yang dimiliki Surabaya? Apakah hanya mal-mal dan plasa-plasa? Atau setidaknya Kebun Binatang Surabaya? Dolly? Kya-kya? CCCL? Apakah Surabaya mempunyai pantai? Adakah pusat kesenian tari atau musik?”.

Pertanyaan menggelitik ini datang dari seorang asing yang kesulitan mencari tempat-tempat unggulan Surabaya ketika kerabatnya dari jauh sana datang bertandang. Memang Surabaya memiliki Tourist Information Cnter (ITC) yang malah berada di pusat kota, tepatnya di Balai Pemuda. Namun sungguh sayang, keingintahuan mendapat informasi seluas mungkin tak kunjung terwujud. Tidak ada informasi yang lengkap tentang kawasan pusat makanan khas Surabaya, tempat-tempat pijat, ragam kawasan bisnis, atau pusat kesenian baik modern maupun tradisional. “Informasi sangat terbatas. They don’t even have the map of the city,” tuturnya.

Kenyataan ini, sebagaimana yang dialami Mr. Perrinet itu, sungguh sebuah ironi di tengah upaya pemerintah kota menjadikan Surabaya sebagai kota perdagangan melalui pariwisata. Harus diakui, keinginan itu masih jauh dari kenyataan. Masih banyak hal yang perlu ditata dan dibenahi, jika memang upaya untuk menjadikan Surabaya kota wisata tidak berhenti sebatas mimpi. Simak saja pendapat Mr. Perrinet.

Pemerintah, misalnya, patut menyediakan peta kota secara gratis bagi wisatawan. Bukan hal yang lucu jika para pelancong yang berkunjung ke kota ini harus mencari toko dahulu dan membeli peta. Pada tahun-tahun awal, langkah ini mungkin belum memberikan keuntungan apa-apa bagi pengelola kota, tetapi upaya ini diperlukan untuk keberhasilan jangka panjang.

Tidak hanya berhenti di pelayanan informasi semata, pemerintah perlu juga membenahi aspek-aspek pendukung pariwisata lainnya. Transportasi kota salah satunya. Bagaimana mungkin wisatawan dapat menikmati pesona wisata kota ini jika mereka masih dihadang kendala untuk menjangkau tempat-tempat wisata karena minimnya informasi?

Dan, yang lebih substansial dari semua itu, menurut Mr. Perrinet, pemerintah harus mempunyai strategi untuk mengembangkan wisata kota. Dalam hal ini, pemerintah harus mampu menangkap mengapa turis datang, ke mana tujuannya, dan apa yang mereka cari. Di samping itu, pengelola kota juga harus berupaya keras menghapus semua citra buruk Surabaya sebagai kota yang sering dilanda banjir, polusi dan berdebu, kurang penghijauan, bahkan rawan keamanan.

Sebagai langkah awal, Surabaya saat ini telah memiliki Surabaya Tourism Promotion Board yang merupakan garda terdepan dalam mempromosikan dan memajukan sektor wisata kota ini. Namun, dukungan semua pihak, baik publik kota serta kalangan swasta tetap mutlak diperlukan demi mewujudakan mimpi Surabaya yang lebih teratur, indah, dan nyaman sehingga menarik minat para wisatawan dalam dan luar untuk melancong ke kota ini. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: