Surabaya dan WTN Itu!

Surabaya kembali menerima penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN). Ini adalah penghargaan yang kesepuluh yang diterima kota ini, sebagai penghargaan bagi kota raya yang dinilai memiliki manajemen lalu lintas baik. Sekadar informasi, Surabaya telah mendapatkan WTN sejak tahun 1993 sampai 2005. WTN itu diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Walikota Bambang DH di Istana Negara, pada Rabu (8/2).
Beragam reaksi muncul atas “prestasi” ini. Menurut Kepala Dinas Perhubungan kota Surabaya, M. Bambang Suprihadi melalui Kabag Humas dan Protokol, Drs. Tasmudji Chamsun, keberhasilan mendapatkan piala WTN ini tak lepas dari partisipasi warga kota Surabaya (7/8). Selama ini, Dinas Perhubungan selalu mengajak masyarakat untuk mengembangkan disiplin berlalu lintas sekaligus mewujudkan manajemen lalu lintas dan angkutan kota yang baik. Dan dengan diraihnya penghargaan itu, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran berlalu lintas warga kota, juga meningkatkan keselamatan serta mewujudkan tertib manajemen lalu lintas dan angkutan kota.
Namun, penghargaan WTN bagi Surabaya tak urung juga mendapat sorotan dari sebagian publik kota. Salah satunya adalah Wahyudin Husein, yang juga adalah anggota DPRD kota. Wahyudin, anggota Fraksi PKB DPRD Surabaya itu menanyakan, apakah Surabaya sudah pantas menerima penghargaan itu, sementara di jalanan Kota Pahlawan masih diwarnai kemacetan tiap harinya.
Menurut Wahyudin, berdasarkan data Rancangan Pembangunan Jangka Menengah/Panjang (RPJMP), pemkot tidak menunjukkan konsistensinya dalam perbaikan layanan jalan. Buktinya, tutur Wahyudin, selama lima tahun pertumbuhan jalan nol persen sementara jumlah kendaraan bernomor polisi L meningkat sebanyak 1,2 juta kendaraan. Ironisnya, kata Wahyudin, justru pengelola kota malah mengeluarkan izin pembangunan 15 mal selama setahun terakhir. Padahal efek pembangunan mal terhadap kemacetan lebih besar.
Terlepas dari dua ragam persepsi atas penghargaan WYN yang ke-10 untuk kota Surabaya, kita, selaku publik kota, yang setiaphari bergelut dan bergulat dengan realita lalu lintas kota ini perlu merenung sejenak. Patutkah kita menerima penghargaan itu? Banggakah kita dengan prestasi yang diraih itu? Atau boleh jadi, ada sebagian dari kita yang acuh tak acuh sembari tak peduli dengan penghargaan itu, karena toh, kondisi yang ada dapat kita nilai sendiri secara lebih jujur.
Namun, ada satu beban dan tugas besar yang seharusnya dipikul bersama oleh warga kota ini. Yaitu mewujudkan penghargaan itu dalam realita yang sesungguhnya. Boleh jadi kemacetan masih terjadi di mana-mana. Tak apa lah jika manajemen trasportasi kota hingga saat ini masih carut marut. Tapi, jadikanlah penghargaan WTN itu cambuk yang mampu melecut semua pihak bahu-membahu membenahi kondisi kota ini, demi mewujudkan Surabaya sebagai ruang hidup yang layak dan manusiawi bagi penduduknya. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: