Pendidikan Kota Surabaya Menuju 2020?

Dunia pendidikan Surabaya saat ini boleh berbangga hati, sedikit berpolah jumawa pun tak apalah. Toh, kota ini telah memiliki Grand Design Pendidikan Kota Surabaya Menuju Tahun 2020 yang baru saja diujipublikkan. Grand Design ini bahkan telah diterjemahkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya ke dalam program jangka menengah yang lebih rinci dan lebih berjangka pendek, Master Plan Pendidikan Kota Surabaya tahun 2006-2010.

Target yang diusung pun begitu luar biasa. Ada lima program strategis dalam grand design itu. Yang pertama, pemerataan mutu pendidikan. Di sini, hasil yang ingin dicapai adalah minimal 10% sekolah yang ada di Surabaya bertaraf internasional. Sementara sekolah yang berstandar internasional mencapai 40% dan yang berstandar potensial sebesar 40%. Persebaran sekolah ini pun merata di seluruh wilayah Surabaya.

Kedua, peningkatan kebermaknaan pendidikan. Dalam program strategis ini, target yang diusung adalah minimal 70% sekolah menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan benar-benar diperlukan oleh siswa. Ketiga, peningkatan profesionalisme guru, di mana semua guru diharapkan memenuhi kualifikasi standar pendidikan minimal berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Selain itu, minimal 30% guru telah memperoleh sertifikasi yang didukung dengan persebaran dan distribusi guru yang berkualitas secara merata.

Adapun program keempat adalah peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, yang mentargetkan minimal 90% sekolah berfasilitas sesuai SNP. Sementara program terakhir, kelima, peningkatan mutu manajemen pendidikan, dengan indikatornya minimal 90% sekolah sudah menerapkan MBS, tiap sekolah memiliki sistem informasi berbasis teknologi informasi (IT), efektivitas dan efisiensi pengelolaan anggaran pendidikan, serta partisipasi swasta dalam penyelenggaraan pendidikan.

Melihat tolok ukur yang ingin dicapai dalam grand design itu, publik perlu berdecak kagum, sembari berharap semoga pengambil kebijakan kota ini tidak terjebak dalam (meminjam istilah Chamim Rosyidi Irsyad) sindrom Miopia, alias sindrom rabun jauh. Atau bahkan sebaliknya, seperti lontaran Dr. Ayu Soetarto bahwa kita (baca: orang Jawa) senangnya yang ndakik-ndakik. Kita piawai dalam merancang sesuatu yang sulit sehingga kita pun enggan atau sulit melaksanakannya. Kita hobi meniru yang jauh ada di luar sana baru sebatas kulitnya. Sementara menyesuaikan isinya dengan konteks bangsa ini malah sering menjadi kekhilafan berjamaah.

Betapa tidak, jangankan bicara tentang kualitas pendidikan, infrastruktur pendidikan yang ada di kota ini masih jauh dari cukup. Gedung-gedung sekolah masih miskin fasilitas. Bahkan, tak jarang terdengar berita tentang gedung sekolah yang roboh ataupun tergenang banjir. Belum lagi bicara tentang faktor tenaga pendidiknya. Begitu banyak para guru bantu di kota ini yang berharap-harap cemas akan masa depan pekerjaannya. Terakhir, dunia pendidikan Surabaya ikut tercoreng oleh kasus pemalsuan merek mikroskop, yang sedianya merupakan program bantuan dari Diknas kota kepada sekolah-sekolah yang membutuhkannya.

Janganlah kita berbicara terlalu jauh. Visi ke depan sah-sah saja dikembangkan. Tetapi jangan lupakan permasalahan kontekstual yang saat ini tengah menghimpit. Jangan semata terjebak pada ranah kebijakan publik yang bersifat teknis, politis dan pragmatis. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: