Mengapa Mereka Melawan?

Pembangunan Pasar Induk Keputran Baru oleh Pemkot Surabaya melalui PT Equator Development Sejahtera (EDS) terus mendapat protes dan kecaman dari warga sekitar Kebraon, tempat PIKB dibangun. Tak tanggung-tanggung, warga yang tergabung dalam Forum Warga Kebraoun Bersatu (FWKB) itu memasang portal di jalan masuk lokasi proyek. Akibatnya, truk-truk dan alat-alat berat PT EDS pun tak bisa masuk, pembangunan pasar ikut tertunda (22/01/06).

Penolakan sebagian warga Kebraon ini sesunguhya dilatari oleh kekhawatiran mereka akan keberadaan pasar yang dibangun ditengah-tengah lokasi pemukiman itu. Dalam benak warga, berdirinya PIKB lebih banyak membawa mudhorot dari pada manfaat. Kekhawatiran ini barangkali tak lepas dari kondisi pasar yang selama ini cenderung dikonotasikan sebagai tempat yang kumuh. Carut marut situasi lalu lintas dilingkungannya yang dijejali oleh hiruk pikuk pedagang-pembeli, di tambah dengan riuh kendaraan pengangkut, baik truk, pick up, hingga becak sungguh tidak sedap dipandang mata. Belum lagi limbah produksinya yang cukup besar.

Paling tidak ada dua hal yang menjadi sumber keberatan warga. Pertama, mereka merasa dirugikan karena kondisi jalan-jalan kampung menjadi rusak dan berlumpur ketika hujan. Kedua, janji-janji PT EDS untuk membangun saluran pembuangan air, gapura serta menyediakan lahan makam selalu diingkari, bahkan hingga detik ini belum ada yang direalisasikan (24/01/06). Tak pelak, warga yang merasa aspirasi mereka diabaikan pun menjadi kesal dan jengkel. Buahnya adalah aksi protes yang telah berulangkali dilakukan, yang boleh disebut sebagai manifestasi atas kekecewaan dan kekesalan mereka.

Aksi pertama terjadi pada pertengahan Oktober 2004 silam. Namun, semua protes warga tidak menyurutkan niat pengelola kota untuk membangun pasar induk pengganti Pasar Keputran yang telah overload. Pemkot tetap melakukan pemancangan tiap pertama. Persoalan menjadi bertambah kompleks ketika desain dan skenario tentang lokasi dan proses pembangunan dengan segala dampaknya kurang dikomunikasikan secara optimal kepada masyarakat. Yang muncul justru kesan atas pembangunan pasar induk sebagai proyek tertutup yang tidak membuka ruang dialog secara memadai bagi masyarakat.

Hal ini pulalah yang acapkali menjadi pangkal persoalan serta gambaran buram proses pembangunan kita. Masyarakat cenderung ditinggalkan dalam merancang skenario pembangunan. Ada jarak yang cukup besar antara kehendak masyarakat dengan prakarsa pemerintah. Kalau sudah demikian, bagaimana mungkin pengelola kota dapat mendulang dukungan dan sense of belonging warga atas implementasi program pembangunannya. Jangan salahkan mereka kalau akhirnya mereka pun tumbuh menjadi masyarakat yang apatis dan terkadang anarkhis.

Berkaca dari kondisi di atas, pengelola kota harus membuka ruang komunikasi dengan publik kota yang lebih besar. Pola komunikasi pun perlu dirubah, mengingat strategi sosialisasi kebijakan yang dijalankan Pemkot selama ini belum memberi hasil yang memuaskan. Bagaimana pun, pembangunan sejatinya ditujukan untuk mengangkat harkat dan kesejahteraan warga kota. Hal ini bukan berarti menempatkan masyarakat sebagai objek dan memperlakukan mereka tak lebih dari penonton. Jadikan mereka subyek. Ajak mereka untuk ikut aktif menentukan arah kota ini ke depan sejak dini. Hasilnya akan luar biasa. Pembangunan pun menjadi lebih bermakna. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: