Problem Pemeliharaan

Sudahkah publik Surabaya puas dengan hasil pembangunan sejauh ini? Meskipun belum ada satu jajak pendapat pun yang mengangkat tema ini, namun dapat dipastikan jawaban yang muncul adalah TIDAK. Pembangunan yang dilakukan selama ini seolah tak pernah lepas dari cela. Selain masalah penyimpangan tata administrasi dan manajemen pembangunan seperti yang terjadi dalam kasus pengadaan tiga eskalator Pasar Turi dan pemalsuan merek mikroskop baru-baru ini, Surabaya masih dirongrong dengan kualitas hasil pembangunan yang rendah.

Buktinya, lihat saja daya tahan fisik bangunan yang begitu cepat rusak, seperti kasus 21 bangunan puskesmas yang baru direnovasi rusak parah. Kondisi puskesmas nyaris tidak bisa digunakan. Padahal proyek pembangunannya menghabiskan dana yang tidak sedikit. Paling tidak Pemkot telah menghabiskan anggaran sebesar Rp. 6 miliar rupiah yang dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2005. Atau, kalau mau contoh yang lebih mudah, perhatikan saja kondisi jalan di kota ini. Anda sudah pasti mafhum.

Sesungguhnya, lemahnya daya tahan fisik hasil-hasil pembangunan di kota ini berpulang pada lemahnya fungsi pemeliharaan. Harus diakui, sampai sejauh ini pemeliharaan belum menjadi perhatian yang cukup penting oleh Pemkot. Padahal efeknya cukup besar bagi keberadaan sebuah infrastuktur ataupun fasilitas kota yang ada. Memang efek tersebut kadangkala tidak dapat dilihat secara langsung. Namun, efek itu ibarat bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu, bahkan kadangkala tidak hanya berpengaruh terhadap fasilitas itu sendiri tetapi meluas kepada fasilitas lainnya. Sebagai contoh, lemahnya pemeliharaan saluran tepi jalan akan berpengaruh kepada terpeliharanya jalan yang ada di sampingnya secara langsung.

Lemahnya fungsi pemeliharaan itu seakan memperkuat stigma bangsa ini yang hanya bisa membangun tapi tidak bisa memelihara. Betapa banyak contoh yang dapat kita lihat. Gedung baru yang diawal pembangunannya terlihat kinyis-kinyis, tapi selang beberapa bulan kemudian mulai terlihat kumuh, kotor dan kurang terpelihara. Satu tahun kemudian, kita pun terkaget-kaget melihat kondisi gedung itu.

Tentu saja semua ini menimbulkan pertanyaan yangg menggelitik benak kita. Di mana sesungguhnya letak permasalahannya? Apakah masalah ini bersumber pada tidak tersedianya biaya pemeliharaan? Apakah biaya pemeliharaan itu sejatinya ada, namun banyak yang menguap tak berbekas atau hanya dipergunakan sebagian saja? Ataukah biangnya ada pada praktik pencatutan biaya yang didasari anggapan bahwa walaupun kurang terpelihara secara baik, toh publik kurang memperhatikannya? Ataukah publik kota ini sudah begitu apatis dengan kondisi kotanya sehingga mereka pun cuek-cuek saja?

Sudah waktunya bagi pengelola kota ini untuk lebih memperhatikan fungsi pemeliharaan pembangunannya. Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh, terutama penghematan biaya. Ibarat pepatah, sedia payung sebelum hujan, ongkos yang dikeluarkan untuk memelihara tentu tidak akan sebesar memperbaiki, apalagi bila kerusakan yang ditimbulkan merembet pada infrastruktur yang lain.

Di sini dituntut kemampuan pemerintah dalam memperhitungkan perbandingan pembangunan infrastruktur baru yang diselaraskan dengan kemampuan memeliharanya, sehingga dicapai tingkat efisiensi yg optimal. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: