Surabaya Butuh RTH!

Mimpi warga Surabaya untuk memiliki tempat hidup yang bermartabat dan manusiawi sepertinya masih jauh dari kenyataan. Kota ini belum ramah benar pada penghuninya. Saban tahun penduduk kota selalu disibukkan untuk menguras air yang membanjiri rumah dan lingkungan mereka tatkala hujan mengguyur. Belum lagi soal sampah yang menyesakkan hidung dan pandangan kita. Fasilitas kota yang memanjakan publiknya pun terbilang minim. Lihat saja kondisi tempat-tempat rekreasi keluarga yang kian tahun kian memprihatinkan, bahkan cenderung berkurang. Ya, kota ini sangat miskin ruang terbuka untuk publiknya!

Dalam ulasannya, salah satu harian kota ini memaparkan kondisi ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya yang tinggal 262 hektar dari 32.700 hektar luas wilayah Surabaya, atau 0,8 persen. Padahal, UU No. 41/1999 tentang Kehutanan telah menetapkan bahwa luas RTH harus 30 persen dari total luas wilayah. Jika mengacu pada aturan ini, alangkah miskinnya kota ini atas RTH.

Penipisan RTH di Surabaya mulai terjadi sekitar tahun 1990, yang sebagian besar berlangsung di Surabaya Barat. Seharusnya kawasan itu, merujuk pada Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) tahun 1985, dijadikan sebagai kawasan resapan air. Namun, memasuki tahun 1990-an, wilayah yang luasnya mencapai 2000 hektar itu berubah fungsi menjadi kawasan permukiman. Hal yang sama juga berlangsung di kawasan timur Surabaya. Dulunya, sebagian lahan di sana diperuntukkan sebagai daerah konservasi. Tetapi kini, seiring perjalanan waktu dan perkembangan kota, daerah itu ikut berubah fungsi menjadi kawasan perumahan.

Pengelola kota ini pun tampaknya belum memprioritaskan kebutuhan akan RTH. Tengara ini dapat dilihat pada draft Arah Kebijakan Umum (AKU) dan Strategi Prioritas (SP) 2006, yang hanya akan menambah RTH sebanyak 6 hektar atau 0,08 persen luas Surabaya (17/01/06). Di sini, RTH terdiri dari taman kota, hutan kota, lahan pemakaman, dan sarana olah raga. Enam hektar lahan tambahan itu akan diwujudkan dalam bentuk areal pemakaman seluas 4 hektar dan taman kota seluas 2 hektar.

Upaya memperluas RTH bukan tanpa kendala. Besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan lahan baru segera menghadang. Solusi pun lantas beralih dengan merevitalisasi lahan yang masih mungkin dijadikan RTH. Tapi langkah ini pun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perilaku tidak terpuji dari beberapa warga kota tak bertanggung jawab menjadi biangnya.

Dengar saja sambatan Kadis Kebersihan dan Pertamanan Kota, Tri Risma Maharani, yang mengeluh telah kehilangan 300 tanaman perdu yang baru saja ditanam di sepanjang Jl. A. Yani. Ditambah lagi dengan puluhan pohon milik Pemkot yang dibakar warga, seperti yang terjadi di Jl. Kaca Piring, Jl. Kenjeran, Jl. Embong Tandjung, Jl. Undaan, Jl. Mas Sunjoto, Jl. Undaan Kulon, dan Jl. Sulung (18/01/06).

Ulah anarkis warga kota itu sangat disayangkan dan tentu saja tak layak dipuji dan ditiru. Pohon-pohon serta taman-taman kota yang memenuhi kota ini sungguh memiliki fungsi yang teramat besar. Dengan keterbatasan RTH yang ada, tak ayal lagi, banjir dan polusi udara kian hari kian bertambah parah. Atas itu semua, publik jua yang harus menanggung akibatnya. Rasa was was yang muncul setiap kali awan hitam mulai bergelantungan di langit kota.  Atau juga udara kotor dan beracun yang masuk ke dalam tubuh kita. Itu semua hanya sekelumit konsekuensi yang harus dialami.

Karena itu, tanggung jawab untuk memperbaiki dan mempercantik wajah kota ini ada di pundak seluruh warga kota. Jangan hanya membebankannya pada pemerintah semata. Di sisi lain, dibutuhkan kapasitas Pemkot yang mampu menanamkan kesadaran kolektif warga kota untuk ikut peduli dengan nasib dan masa depan kotanya kelak. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: