PKL dan Asbabun Nuzulnya

Sungguh malang nasib Pedagang Kaki Lima (PKL). Ketenangan mereka dalam mengais rejeki di tengah kejamnya persaingan hidup kota ini sering terusik oleh berbagai aksi penertiban yang digelar pemerintah. Wacana keindahan kota telah menempatkan mereka tak ubahnya parasit yang harus diberangus. Sementara pada sisi lain, keuntungan yang mereka peroleh dengan susah payah harus dibagi dengan beberapa oknum warga kota yang mengeksploitasi keberadaan mereka.

Sampai sejauh ini, beragam upaya pemerintah untuk mengentaskan mereka dari jalanan belum menunjukkan hasil nyata. Dari program yang paling akomodatif berbungkus penataan dan relokasi, hingga upaya-upaya represif dengan mengusir paksa mereka dari jalanan kota. Tak terhitung besarnya anggaran yang telah dikucurkan. Tak terhitung pula air mata yang telah bercucuran. Namun tetap saja, fenomena PKL masih mewarnai wajah buram kota ini.

Bukan perkara gampang memang mengatasi persoalan ini. Apalagi jika upaya-upaya pemecahan itu tidak mengakomodasi kepentingan para pelaku „bisnis jalanan“ itu. Tidak pula menggali akar keberadaan mereka di sudut-sudut kota. Berbicara tentang asbabun nuzulnya, ada baiknya kita sedikit mencermati beberapa faktor pemicu PKL berikut.

Pertama, mereka yang kepeksa, karena gak ana kerjaan liya. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mau tidak mau satu-satunya pilihan yang ada hanya bekerja di sektor informal. Bagi mereka pekerjaan itu adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa digunakan untuk mendapatkan penghasilan, dan seandainya ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, tentu ia akan meninggalkan PKL.

Kedua, karena ter-PHK dan daripada Nganggur. Untuk menyambung hidup, mereka yang ter-PHK memilih PKL sebagai alternatif tercepat yang bisa digunakan untuk mengganti pekerjaan yang hilang dan untuk mendapatkan penghasilan meskipun tidak sebanyak pekerjaan sebelumnya.

Ketiga, golek rejeki sing halal. Di mata golongan masyarakat miskin kota, gengsi tampaknya sudah tidak terlalu lagi dihiraukan. PKL bagi mereka bukan merupakan pekerjaan yang hina. Di mata mereka, yang terpenting adalah mendapat rejeki yang halal dan dapat digunakan untuk menghidupi sanak-keluarganya. Mereka melihat menjadi PKL jauh lebih baik daripada meminta-minta atau merampok.

Keempat, mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Sektor informal memberikan kesempatan yang berarti kepada kaum migran untuk secara mandiri berwiraswasta. Kelima, mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarga. Salah satu faktor yang membuat PKL tetap gigih bertahan adalah tanggung jawab untuk menghidupi keluarga. Meski dari waktu ke waktu mereka harus menghadapi berbagai tindakan represif yang dilakukan aparat penertiban, semuanya tetap tidak akan membuat putus asa. Sementara keenam, sektor ini tidak membutuhkan pendidikan tinggi dan modal banyak. Banyak orang yang memilih menjadi PKL karena tidak membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus sehingga siapa pun dapat masuk ke sana.

Tak ada salahnya para pengambil keputusan di kota ini menggali latar permasalahan ini terlebih dahulu. Dengan demikian solusi yang ditawarkan pun dapat mengakomodasi seluruh kepentingan warga kota yang terkait di dalamnya. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: