Menanti Surabaya Bersih

Sampah selama ini sering dianggap sebagai salah satu biang banjir di Surabaya. Perilaku masyarakat yang kurang menghargai kebersihan kota dengan membuang sampah di sembarang tempat telah menyebabkan penyumbatan saluran. Walhasil, ketika hujan turun dalam intensitas relatif tinggi, air pun meluber memenuhi jalanan dan rumah-rumah penduduk.

Berkaca dari kondisi ini, dan tidak ingin menjadi bulan-bulanan karena dianggap tidak mampu mengatasi banjir, Pemkot bakal menggelar operasi yustisi besar-besaran (9/1/06). Jika selama ini yustisi hanya dilakukan secara preventif, kali ini sudah menginjak tahap represif. Pemkot akan membentuk tim yustisi yang tugasnya menghukum warga yang kedapatan membuang sampah bukan pada tempatnya.

Tim ini akan bergerak secara mobil, memantau kawasan-kawasan yang biasanya digunakan warga sebagai tempat pembuangan sampah. Hakim dari Pengadilan Negeri Surabaya pun dilibatkan guna menghukum para warga nakal yang tertangkap tangan membuang sampah sembarangan.

Terlepas dari kurang lebihnya, warga kota patut menyambut baik langkah Pemkot ini. Lebih dari itu, kita pun perlu mendukungnya dan ikut berpartisipasi dengan mematuhi dan memonitor konsistensi serta ketegasan aparatur birokrasi dalam mengimplementasikan kebijakannya.

Sekadar mengingat, sebelumnya Surabaya telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2000 tentang Kebersihan. Tetapi setelah lima tahun berjalan, perilaku kebersihan warga kota masih sak enake dhewe. Padahal, ancaman hukuman bagi warga kota yang tertangkap tangan melakukan pelanggaran tergolong berat. Sanksi pidana kurungan 3 bulan atau denda paling banyak Rp. 5 juta mengintai di depan mata.

Belajar dari pengalaman ini, Kabag Humas dan Protokol, Tasmudji Chamsun, menegaskan, dalam yustisi represif nanti, Pemkot akan “menyikat bersih” semua pelanggaran yang ditemukan. Pola sidang di tempat diharapkan dapat menimbulkan efek jera. Sebab dengan cara demikian, para pelanggarnya kemungkinan besar akan masuk penjara. Berbeda dengan cara lama yang hanya melakukan penyitaan KTP.

Meskipun demikian, sosialisasi melalui penanaman kesadaran secara kontinyu dan sistematis tidak boleh diabaikan. Sosialisasi ini tidak hanya dilaksanakan pada awal penerapan operasi yustisi, tapi jauh sebelum penerapan kebijakan dan terus berlangsung selamanya. Memang upaya ini membutuhkan tenaga dan sumber daya yang tidak sedikit. Namun, perubahan budaya tidak dapat dilakukan dengan cara gebuk paksa.

Dalam teori hegemoni, pemaksaan hanya melahirkan perlawanan. Itu sebabnya pendekatan hegemonik lebih mengendepankan kepemimpinan moral-intelektual. Bangun kesadaran warga kota bahwa mereka membutuhkan lingkungan yang bersih. Pada gilirannya, ketika mereka menyaksikan sampah bertebaran, mereka pun risih. Operasi yustisi mungkin efektif sebagai sebuah upaya shock teraphy. Selanjutnya diperlukan pembelajaran sosial agar masyarakat pun ikut menyadari arti pentingnya menjaga kebersihan kota ini.

Sudah waktunya kota ini berbenah. Mari kita tata surabaya agar menjadi makin apik dan menarik. Jangan lagi kotori wajah kota ini dengan sampah dan banjir. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: