Balada Tol Tengah Kota

Setelah sekian lama menjadi perdebatan, akhirnya rencana Surabaya untuk memiliki tol tengah kota kian mendekati kenyataan. Tengara ini muncul setelah panitia khusus (Pansus) Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DPRD Surabaya memasukkan tol tengah kota sebagai salah satu item rekomendasi pembangunan kota ini ke depan. Terlebih, guna mengatasi kemacetan kota. Tol tengah kota ini dimasukkan dalam pasal 21 ayat 3 yang berbunyi: “Untuk pengembangan jalan alternatif yang menghubungkan wilayah utara dengan wilayah selatan dibanguna jalan lingkar timur, lingkar barat dan tol tengah kota.

Sementara dalam tataran konsep pembangunan seperti yang pernah dipaparkan oleh Bappeko, ada beberapa rekomendasi yang harus dilakukan. Salah satunya adalah menghubungkan tol tersebut dengan jalan arteri, termasuk tol yang sudah ada. Dengan demikian, besar sekali harapan perencana kota ini, bahwa keberadaan jalan tol ini nantinya akan memberi sumbangan yang tidak kecil dalam mengurangi kemacetan di jalan-jalan kota.

Namun apakah harapan itu akan menjadi kenyataan atau tidak? Ada beberapa hal yang perlu kita kaji secara cermat. Pertama, konsep pembangunan jalan tol itu masih mengacu pada konsep car mobility, bukan human mobility. Dalam konsep pertama, fasilitas terhadap kendaraan bermotor pribadi menjadi primadona, dan yang menjadi ukurannya adalah kecepatan kendaraan pribadi yang sedapat mungkin tanpa hambatan. Padahal, konsep ini boleh dibilang sudah usang dan banyak yang gagal. Berbeda halnya dengan konsep human mobility yang memfasilitasi kemudahan pergerakan manusia melalui berbagai prasarana dan sarana transportasi. Pemakaian kendaraan pribadi di pusat kota sedapat mungkin dibatasi, atau diberikan ongkos cukup tinggi melalui pajak khusus, parkir, sistem stiker, dan sebagainya. Sebagai solusinya, disediakan angkutan umum di perkotaan yang andal, aman dan nyaman.

Kedua, jalan di pusat kota telah jenuh dengan lalu lintas di atasnya. Lalu lintas bergulir ibarat air yang mengalir. Bila jalan tol dibagun di tengah kota, hal ini tak ubahnya “menumpahkan air bah langsung ke tengah kota”. Proses penyaringan arus lalu lintas dari daerah pinggiran menuju pusat kota tidak terjadi. Lalu lintas akan langsung menjadi beban jalan dan persimpangan yang telah jenuh. Bahkan, dapat diproyeksikan bahwa nantinya akan terjadi antrean cukup panjang di pintu-pintu keluar tol, karena jalan yang akan menampungnya telah berada dalam kondisi macet. Struktur ruang kota akan berubah secara mendasar dengan implikasi yang sangat luas.

Tidak mudah memang mencari solusi atas permasalahan yang telah berkembang sedemikian kompleks. Pembangunan jalan baru, apalagi di tengah kota belum tentu menjadi solusi, salah-salah malah menjadi petaka tersendiri. Menurut penelitian, pembangunan jalan baru akan membangkitkan lalu lintas baru yang akhirnya justru menambah kemacetan. Itu sebabnya, San Fransisco mengambrukkan beberapa ruas jalan bebas hambatannya. Seoul merobohkan 6 kilometer jalan layang tengah kota, mengubahnya menjadi ruang publik yang sangat humanis (Gatra, 19/11/05). Dua kota ini menyadari, car oriented akan menghalangi terbentuknya kota yang manusiawi. Bagaimana dengan Surabaya? Tentunya semua berpulang pada kita selaku penduduk kota ini. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: