Mimpi Surabaya Business Friendly

Menyambut tahun baru, sudah menjadi kelaziman jika banyak opini maupun prediksi yang dimunculkan oleh banyak kalangan guna melihat berbagai perkembangan yang akan terjadi di tahun 2006 ini. Salah satunya adalah prediksi yang dikeluarkan oleh Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur sebagaimana yang dimuat salah satu harian kota ini. Kadin melihat masa depan dunia usaha pada tahun ini bakal makin suram. Bidang investasi di sektor riil akan terus menurun. Investasi terhenti, PHK pun marak.

Erlangga Satriagung, Ketua Kadin Jawa Timur, sebagaimana yang dilansir koran tersebut, menyebut tahun 2006 sebagai „keadaan yang seru dan buram“. Dalam analisisnya, Erlangga menilai kenaikan harga BBM semakin memberatkan beban usaha di sektor riil, sehingga banyak pengusaha yang akhirnya beralih ke sektor jasa dan bisnis portofolio yang nyatanya tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Apalagi, masih menurut Erlangga, ke depan dikhawatirkan bakal banyak bermunculan industri jasa dengan nilai investasi kecil yang hanya membutuhkan segelintir tenaga kerja.

Benar atau tidak prediksi itu masih menjadi tanda tanya bagi kita, meski harus diakui bahwa kecenderungan ke arah sana pun cukup besar. Paling tidak, prediksi itu tentunya berangkat dari berbagai permasalahan riil yang dihadapi oleh kalangan pelaku bisnis. Terutama yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah yang dalam banyak hal kurang ramah terhadap investasi. Pengusaha masih dihadapkan pada permasalahn kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan harga BBM industri yang cukup tinggi, kebijakan perpajakan yang memberatkan, serta tuntutan upah buruh yang terus mencekik. Berangkat dari berbagai persoalan itu, tak pelak jika para pelaku usaha berpandangan bahwa pemerintah kurang berpihak pada iklim investasi yang bagus.

Selain itu, sikap tak konsisten yang sering ditunjukkan pemerintah ikut menjadi biang terhambatnya investasi. Salah satu contohnya, pemerintah begitu mudahnya memberikan janji manis agar bisa mempermudah investasi, meski kenyataan sampai saat ini belum teraktualisasi di lapangan. Lihat saja pada banyaknya „biaya siluman“ yang muncul dalam setiap proses pengurusan investasi. Erlangga juga mengkritisi peran pemerintah dalam menyelesaikan sengketa perburuhan, sebagai salah satu fakto larinya investor. Di sini, pemerintah belum dapat menjadi jembatan yang arif dalam memediasi hubungan pengusaha-buruh. Selama ini, pengusaha cenderung diposisikan berhadap-hadapan dengan para buruh. Dampaknya, pengusaha selalu curiga terhadap langkah-langkah yang diambil buruh, sebaliknya setiap kebijakan pengusaha selalu ditanggapi secara „minor“ oleh buruh.

Beragam gambaran suram di atas tentunya sangat bertolak belakang dengan visi Surabaya ke depan, yang telah memposisikan diri sebagai kota jasa (city of service). Apalagi, kebutuhan kota ini terhadap investasi cukup tinggi. Survey membuktikan tidak kurang dari 70% investasi di kota ini berasal dari sektor swasta. Atas dasar itu pula, Surabaya sesungguhnya sangat membutuhkan kehadiran investor, terutama dalam membantu pemerintah membiayai pembangunan kota.

Bertitik tolak dari kondisi di atas, sudah waktunya bagi kota ini untuk ”lebih ramah” terhadap investasi. Kembangkan berbagai potensi kota serta kebijakan ”ramah investasi” yang dapat menjadi gula guna menarik masuknya para pemodal, tentunya dengan tidak mengorbankan kepentingan mayoritas warga kota. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: