Adakah Ukuran Kinerja Birokrasi?

Birokrasi selama ini identik dengan kerja yang lamban, kurang responsif, gagap teknologi, prosedur yang berbelit-belit, serta kurang akomodatif terhadap kepentingan publik. Selain karena persoalan-persoalan sistem, „wajah buram“ birokrasi itu juga dipengaruhi oleh budaya serta mental kerja para punggawanya, yang pada banyak sisi sering memantik kekecewaan masyarakat. Sehingga tidak berlebihan untuk menyebut bahwa birokrat kita masih kurang akuntabel.

Realitas demikian sungguh bertolak belakang dengan posisi dan peran birokrat, yang Adigang, Adigung, dan Adiguna itu. Birokrat memegang peran utama dalam penyelenggaraan pemerintah. Mereka adalah motor penggerak yang melaksanakan sekaligus merumuskan visi-misi pemerintahan, yang diwujudkan dalam berbagai kebijakan dan regulasi. Peran birokrasi semakin menonjol, terlebih di era globalisasi ini. Sudah pasti, yang dimaksud di sini adalah birokrasi yang efektif dan efisien.

Namun kenyataan berbicara lain. Sampai sejauh ini, perjalanan birokrasi Indonesia selalu menghadirkan dua penilaian yang hampir sama kuat. Birokrasi diakui berfungsi dan berperan besar dalam menopang perjalanan pembangunan sejak Indonesia merdeka dan lebih-lebih sejak masa Orde Baru. Namun di samping penghargaan, kritik tajam pada perilaku birokrasi selalu muncul dan seakan tak pernah henti, terutama berkait masalah inefisiensi dalam pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen pemerintahan.

Birokrat kita kurang bertanggung jawab. Jadwal kerjanya tidak terukur. Kadang datang, kadang bolos. Masuk siang pun tidak mengapa, apalagi pulang lebih dulu. Semuanya berlangsung seolah-olah tanpa kontrol. Ada memang, saat-saat tertentu, di mana institusi birokrasi terlihat ”lebih galak” terhadap karyawannya. Gerakan disiplin digembar-gemborkan. Operasi dan razia dilakukan di segenap penjuru kota, mencari para pegawai mbeling, yang enak-enakan keluyuran pada saat jam kerja. Untuk beberapa saat, birokrat kita menjadi begitu tertib. Namun tak berapa lama, seiring dengan mengendornya razia itu, para aparat berseragam coklat itu pun mulai tampak berleha-leha, seolah-olah tidak perduli dengan tugas-tugasnya.

Gambaran buruk itu terjadi dan melembaga dalam karakter birokrasi kita. Sebagian besar terjadi karena tidak adanya mekanisme reward and punishment yang transparan. Tidak ada standar kriteria guna menilai kinerja seorang aparatur pemerintah, yang dari situ menjadi dasar untuk memberi reward bagi yang berprestasi, atau punishment bagi yang ogah-ogahan. Bagaimana sesungguhnya ukuran kinerja birokrat kita?

David Osborne dan Ted Gaebler, dalam Reinventing Government, melihat pentingnya pengukuran kinerja tersebut dalam memberikan ukuran mutu pelayanan yang spesifik, yang mengungkapkan seberapa berhasil masing-masing unit dalam memenuhi sasarannya. Organisasi-organisasi yang mengukur hasil kerja mereka menyadari bahwa informasi mengubah mereka. Lebih lanjut, Osborne dan Gaebler menekankan, bahwa jika kita tidak mengukur hasil, kita tidak akan dapat membedakan keberhasilan dengan kegagalan. Jika kita tidak bisa melihat keberhasilan, kita tidak bisa menghargainya. Jika tidak bisa menghargai keberhasilan, mungkin kita malah kebablasan menghargai kegagalan. Jika tidak dapat melihat keberhasilan, kita tidak dapat belajar darinya. Sama halnya, jika kita tidak dapat mengenali kegagalan, bagaimana kita akan membetulkannya? Dan jika anda (baca: birokrat) dapat menunjukkan hasil, anda dapat memenangkan dukungan masyarakat. Bagaimana? Bukankah sebagaimana yang diakui Wawali, Arif Afandi (23/12), krisis kepercayaan saat ini menjadi masalah utama kota Surabaya? Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: