Tahun Baru, Paradigma Baru

Empat bulan sudah pasangan Bambang DH – Arif Affandi menduduki kursi Surabaya 1 dan 2. Beberapa kebijakan strategis telah diambil. Menyebut salah satu contoh adalah restrukturisasi lembaga birokrasi Surabaya yang disusul kemudian dengan mutasi para pejabatnya. Tidak ketinggalan pengangkatan direktur utama PDAM yng diambil dari kalangan profesional guna meningkatkan kinerja serta profesionalisme BUMD milik Pemkot Surabaya itu. Wacana busway sebagai moda transportasi massal guna mengatasi carut-marut permasalahan trasnportasi kota juga digulirkan kepada publik.

Namun, kerja tidak berhenti sampai di situ saja. Masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Masih banyak program-program tertunda yang menunggu untuk dituntaskan. Lihat saja proses tarik-ulur pelepasan aset Pemkot, seperti GOR Pancasila dan Kolam Renang Brantas serta masalah aset hasil kerjasama dengan pihak swasta. Ditambah lagi dengan kepastian penguasaan cargo terminal yang stagnan, masalah transportasi kota, revitalisasi lahan bekas pompa bensin di jalur hijau, reklame liar, jalan tol tengah, THR yang terlantar, fasilitas pendidikan dan kesehatan yang memprihatinkan, taman-taman kota yang terlantar, tanah makam, Pasar Keputran, pelayanan publik yang mengecewakan, pola pengendalian pembangunan yang tidak jelas, banjir, PKL, masalah lingkungan, penataan kawasan Ampel serta beragam persoalan kota lainnya. Dan yang masih hangat akhir-akhir ini, adalah tarik-menarik seputar penyusunan APBD Kota Surabaya tahun 2006 antara eksekutif dan legislatif.

Di internal sendiri, pembenahan juga perlu segera dilakukan secara kontinyu dan sistematis. Perampingan lembaga hanyalah titik awal. Yang lebih utama adalah perubahan paradigma serta mindset birokrasi. Budaya kerja aparatur pemerintah yang selama ini terkesan lamban dan kurang responsif harus digenjot agar lebih optimal. Pelayanan publik yang efektif, efisien dan murah harus segera diwujudkan. Desentralisasi kewenangan kepada camat dan lurah perlu segera disiapkan formulanya.

Yang tak kalah pentingnya adalah tuntutan transparansi kerja serta akuntabilitas pemerintah, yang pada gilirannya akan melahirkan public trust guna meraih partisipasi publik dalam setiap gerak pembangunan kota ini. Sebagaimana yang diakui Wawali, Arif Afandi (23/12), krisis kepercayaan saat ini menjadi masalah utama kota Surabaya. Bagaimana mungkin kebijakan kota akan berjalan efektif bila tidak ada public trust di dalamnya?

 

Penyusunan APBD 2006 merupakan momen berharga yang tak boleh disia-siakan begitu saja oleh pemerintah kota. Melalui APBD yang disusun bersama-sama legislatif, pemkot dapat menujukkan komitmennya dalam mewujudkan pemerintahan yang berorientasi pada kepuasan publik. Karena itu, APBD harus memberi ruang yang cukup bagi peran aktif dan aspirasi masyarakat. Pemerintah pun perlu menata ulang kewenangan serta tugas-tugasnya, dengan menyerahkan fungsi-fungsi pelayanan publik yang mampu diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat.

Di sinilah sesungguhnya esensi dari pemberdayaan masyarakat yang sering didengung-dengungkan selama ini. Pemkot harus membuat kota ini menjadi terbuka dan fair bagi segala upaya kemitraan yang saling menguntungkan dan menarik bagi calon investor. Termasuk di dalamnya membuat kota ini menjadi nyaman untuk menumbuhkan kepercayaan publik agar warga kota pun mau berpartisipasi dalam setiap gerak pembangunan Surabaya. Melalui hubungan yang sinergis antara pemerintah, swasta dan masyarakat, pembangunan kota ini dapat berjalan dengan optimal guna memberi ruang hidup yang bermartabat bagi penduduk kota Surabaya. Ayo, Sederek, mbangun Suroboyo!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: