Surabaya Kota Pahlawan?

Surabaya gak punya suvenir. Anda percaya? Jika anda diminta oleh kolega-kolega anda, atau kerabat anda dari luar Surabaya untuk membawakan oleh-oleh khas Surabaya, komoditas apa yang kira-kira akan anda bawa? Dari Jogja, kita bisa membawa pulang kaos Dagadu, bakpia pathok, dan beragam handicraft yang dapat dijumpai dengan mudah di sepanjang jalan Malioboro. Di Bandung, kita bisa membeli oncom, peuyeum, dan aneka produk fashion beserta pernak-perniknya yang ciamik. Di Bali ada kaos Joger, ukiran, lukisan, dan kerajinan peraknya yang terkenal. Medan terkenal dengan bika ambon dan jus terung belanda. Sementara di Jakarta, anda cukup membeli kaos yang bergambar Tugu Monas, Masjid Istiqlal, Taman Mini Indonesia, Dunia Fantasi, dan juga Ancol, semua orang sudah pasti tahu.

Lantas, bagaimana dengan Surabaya? Apa ciri khas kota ini? Selama ini, Surabaya identik sebagai kota pahlawan. Begitu terkenalnya heroisme arek-arek Suroboyo di  seluruh dunia pada jaman revolusi kemerdekaan dulu, sehingga setiap tanggal 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan. Namun sepertinya kenangan sejarah masa silam itu kurang berbekas di generasi saat ini.

Semangat kepahlawanan itu perlahan tergerus arus modernisasi  yang diperparah oleh terpaan budaya pop yang serba instan. Gedung-gedung bersejarah tersingkirkan satu demi satu, diganti dengan bangunan-bangunan baru yang serba modern demi kepentingan komersial, namun kering akan makna. Apakah dengan membangun patung-patung para pahlawan sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kota ini kota pahlawan? Tidakkah para pahlawan kita akan menangis meratapi perkembangan kota ini yang perlahan tapi pasti semakin mengikis jejak-jejak kepahlawanan mereka?

Di penghujung tahun 2005, ada baiknya kita mulai mengenang kembali dan menghargai jasa para pahlawan yang darahnya membasahi setiap jengkal kota ini. Dan memasuki tahun 2006, kita harus memiliki semangat baru untuk menjadikan kota Surabaya sebagai kota pahlawan dalam pengertian yang sesungguhnya. Paling tidak upaya ini bisa kita mulai dengan mengembangkan wisata sejarah.

Upaya ini sekaligus bisa memberi identitas bagi kota ini, sehingga cendera mata asal Surabaya juga menjiwai semangat kepahlawanan warga kotanya. Kembalikanlah ikon-ikon kepahlawanan yang ada di kota ini. Bangunan-bangunan bersejarah jangan dihancurkan. Rumah para tokoh pergerakan nasional yang lahir di Surabaya direhabilitasi, dan dijadikan salah satu daya tarik utama wisata sejarah kota ini. Di sini ada rumah peninggalan WR. Soepratman, HOS. Cokroaminoto, dr. Soetomo, serta Ir. Soekarno, Bung Tomo, dan lain-lain.

Peliharalah semua warisan itu. Kembangkan dengan baik, kemas sedemikian rupa, agar anak cucu kita masih dapat merasakan gelora semangat perjuangan mereka. Jadikanlah hari pahlawan memiliki makna yang dalam, yang dapat menggelorakan kembali semangat nasionalisme yang kian pudar saat ini. Dengan demikian, identitas sebagai Kota Pahlawan pun layak disandang kota Surabaya. Selamat bertugas, Cak Bambang!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: