Diare dan Wajah Kumuh Surabaya

Siapa sangka, di balik segala kemajuan dan ikon-ikon modernitasnya, Surabaya belum mampu memberikan taraf hidup dan ruang hidup yang lebih baik bagi warganya. Buktinya, kota ini tak kuasa menahan wabah diare yang menyerang sebagian warga kota. Bahkan, Surabaya menempati peringkat pertama dalam hal jumlah penderita diare di Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, menurut data Dinas Kesehatan Jatim, pada  tahun 2005, jumlah penderita diare di kota ini mencapai 96.665 orang. Dan data sementara tahun 2006, warga kota yang menderita penyakit ini berjumlah 36.088 orang.

Hal ini bukan berarti ada penurunan jumlah. Bagaimanapun, musim hujan belum tiba. Karena itu, berdasarkan perkiraan USAID, jumlahnya tidak akan jauh berbeda dari tahun 2005. bahkan, bisa jadi jumlah tersebut sesungguhnya jauh lebih besar karena diare merupakan kasus under reported. Diare cenderung diobati jika penyakitnya sudah parah.

Padahal, diare merupakan salah satu penyakit balita yang patut diwaspadai. Penyakit ini tercatat sebagai “pembunuh” nomor dua balita di Indonesia. Lebih dari itu, diare juga merupakan salah satu penyebab kurang gizi yang dapat berakibat pada kematian. Karenanya, wabah ini pun patut diwaspadai.

Upaya preventif yang paling utama dalam mencegah wabah ini adalah dengan menjaga higienitas lingkungan. Caranya, dengan membuat sistem sanitasi yang aman, serta mengembangkan kebiasaan hidup bersih di kalangan masyarakat. Beberapa di antaranya adalah dengan membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun setelah buang air besar atau setelah mencebok anak, memastikan air yang dikonsumsi tidak terkontaminasi tinja, pemberian ASI dan makanan pendamping yang bersih dan bergizi, serta mencuci dan menutup makanan untuk menghindari pencemaran.

Pola-pola pencegahan di atas terdengar begitu sederhana, namun berkembang sedemikan rumit dalam aplikasi di lapangan. Angka kemiskinan yang begitu tinggi di kota ini membuat banyak warga kota yang hidup di bawah kondisi yang layak. Tekanan ekonomi yang besar mengakibatkan tuntutan akan hidup bersih dan sehat masih menjadi prioritas nomor kesekian. Sebagian besar orang masih berpikir pada bagaimana menenuhi kebutuhan perut, dan sedikit sekali yang menaruh perhatian pada layak tidaknya pola hidup yang mereka jalani.

Di sinilah sebetulnmya peran pemerintah kota sangat dibutuhkan. Tidak hanya memberi pelayanan kesehatan yang memadai bagi warga kota, atau sekadar edukasi dan sosalisasi kepada penduduk Surabaya untuk hidup lebih peduli dengan kesehatan mereka. Lebih dari itu kota ini pun harus memberi ruang yang cukup bagi warga-warga yang hidup dalam kemisknan untuk dapat tumbuh seiring dengan perkembangan kota. Namun, fakta yang ada, pelayanan kesehatan kota masih jauh dari optimal, sementara arah pembangunan kota justru acapkali meminggirkan hak ekonomi warga pinggiran itu. Kalau sudah demikian, upaya untuk memberantas penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh kekumuhan itu akan kian sulit untuk diwujudkan. Ayo, Cak, mbangun Suroboyo!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: