Busway: Solusi atawa Ilusi?

Pemkot Surabaya sepertinya tak pernah sepi dari kontroversi. Setelah restrukturisasi kelembagaan yang memantik perdebatan, kini Pemkot tengah mengembangkan wacana bus way di Surabaya guna mengatasi masalah transportasi yang kian hari kian ruwet. Berangkat dari itikad untuk mengurangi kemacetan sekaligus memberikan layanan transportasi murah, aman dan nyaman kepada publik kota, menggantikan bus kota yang sudah pada boborok, Pemkot pun melirik busway sebagai solusi, mengikuti jejak Pemda DKI Jakarta.

Di mata Pemkot, memilih busway sebagai moda angkutan massal dapat menghemat banyak anggaran Pemkot dibanding moda trasportasi lain, seperti monorail. Masyarakat pun ikut diuntungkan dengan menikmati layanan transportasi yang nyaman dengan harga yang diharapkan lebih murah dibandingkan naik bis kota ataupun bemo. Waktu pun dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal.

Tapi, tak urung, program ini ikut memancing perdebatan. Tak kurang dari DPRD Kota Surabaya ikut mencibir program tersebut. Di mata para wakil rakyat itu, program ini dipandang sebagai kebijakan populis walikota untuk menebar simpati kepada masyarakat. Seperti yang diungkapkan Sekretaris Komisi C, Agus Sudarsono, ruas jalan yang ada di Surabaya sudah maksimal dan tidak memungkinkan untuk dibuat jalan khusus bagi proyek busway.

Namun, terlepas dari perdebatan tersebut, satu hal yang patut kita pertanyakan, apakah betul program busway tersebut dapat mengatasi ruwetnya persoalan transportasi Kota Surabaya? Atau jangan-jangan program itu malah semakin memperparah permasalahan transportasi itu? Apakah program ini telah dipertimbangkan dengan matang dengan mengintegrasikan seluruh aspek yang terkait dengan sistem transportasi kota?

Satu hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan transportasi adalah bahwa persoalan ini sangat dekat kaitannya dengan tata ruang kota. Karenanya, perencanaan transportasi pun tidak dapat dipisah dari perencanaan tata ruang kota. Bahkan sedari awal, kedua perencanaan itu harus match dan dilakukan secara paralel.

Namun pola perencanaan yang demikian tidak kita jumpai dalam prakteknya. Dan ketika masalah transportasi menjadi kompleks, barulah kita berupaya menyelesaikan masalah itu. Persoalan transportasi sangat sulit dibatasi hanya dalam bingkai transportasi semata, juga dalam batas administrasi pemerintahan karena rangkaian lalu lintas di Surabaya tidak lepas dari rangkaian lalu lintas daerah-daerah yang berbatasan dengannya. Konsep ini harus dipegang teguh, sehingga tidak dilahrkan konsep-konsep yang sifatnya sepotong dan instan.

Ada baiknya Pemkot Surabaya melihat kembali pada studi Surabaya Integrated Transport Network Planning (SITNP). Studi ini merupakan studi transportasi terlengkap yang pernah dilaksanakan di Surabaya pada tahun 1996-1998, dengan dana tidak kurang dari Rp. 14 M, grant dari Departemen Perhubungan. Di dalamnya diulas secara komprehensif perencanaan transportasi kota, termasuk rekomendasi tentang busway yang melayani rute barat ke timur Surabaya, sementara untuk jalur utara-selatan diisi oleh MRT (Mass Rapid Transport). Karenanya, ide untuk membangunan jaringan busway di Surabaya baru-baru ini,  sebaiknya diselaraskan dengan studi SITNP tersebut. Selamat bertugas, Cak Bambang!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: