Saatnya Surabaya Vertical Housing!

Mencari hunian di Surabaya bukan pekerjaan mudah. Apalagi bagi mereka yang berkantong pas-pasan. Harga properti di kota ini terlalu tinggi, terlebih di pusat kota. Di barat dan selatan Surabaya, yang menjadi primadona pengembangan kawasan hunian di kota ini, harga properti melonjak tinggi. Patokan harga rumah sehat sederhana (RSh) yang ditetapkan pemerintah pada kisaran Rp. 42 juta, sudah tidak mungkin diperoleh di kota ini. Mahalnya harga tanah, mengakibatkan pengembang lebih memilih untuk membangun hunian menengah ke atas.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki cukup anggaran? Solusinya ada pada kawasan-kawasan pinggiran Surabaya, seperti Sidoarjo dan Gresik. Kian hari, seiring perkembangan kota dan laju inflasi bangsa ini, kenaikan harga sektor properti mengakibatkan orang-orang yang berpenghasilan ala kadarnya semakin terpinggirkan dari pusat kota Surabaya.

Dampak yang timbul kemudian tidak boleh dianggap sepele, terlebih setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Pola hunian seperti ini, akhirnya melahirkan high cost econony, yang ironisnya harus ditanggung oleh mereka yang hanya punya uang pas-pasan. Semakin jauh dari pusat kota, berarti semakin besar pula dana tambahan yang harus mereka keluarkan untuk menjangkau kota, tempat mereka mengais rejeki. Selain itu, pengembangan kawasan hunian yang berorientasi pada landed housing ikut berperan pada berkurangnya daerah resapan sebagai antisipasi banjir dan kemacetan lalu lintas pada jalan-jalan koridor masuk ke Surabaya.

Kalau sudah begini, lantas solusi apa yang bisa kita lakukan? Di tengah langkanya lahan kosong di Surabaya, sudah waktunya kita merubah paradigma hunian kita. Sekarang adalah saatnya vertical housing, hunian bertingkat ala apartemen atau rumah susun. Pembangunan vertical housing tentunya memiliki keuntungan tersendiri, utamanya dalam meningkatkan intensitas pendayagunaan lahan, infrastruktur maupun “ruang” untuk berusaha, berdagang, berkantor, berekreasi, dan bertempat tinggal.

Waktu pun dapat dimanfaatkan dengan benar-benar optimal. Warga kota cukup berjalan kaki atau sekali naik kendaraan umum untuk sampai di lokasi kerja. kita perlu belajar dari pembangunan kota-kota lain di belahan dunia. Belanda contohnya, dengan kota-kontanya seperti Rotterdam, Amsterdam, dan Den Haag. Di sana, rumah-rumah vertikal sudah dikenal sejak abad ke-15, dan bertahan hingga saat ini. Kawasan hunian pada pusat kota dipenuhi dengan flat-flat dan apartemen, sementara bagi mereka yang berkantong tebal, yang mendambakan hunian mewah nan eksklusif, silahkan mencari di kawasan pinggir kota.

Bagaimana dengan Kota Surabaya, masihkah tetap berorientasi pada format perencanaan kawasan hunian yang konvensional pada bentuk landed housing? Ataukah Pemkot telah berancang-ancang untuk mengusung konsep vertical housing? Semua pilihan ini ada di tangan para pengambil kebijakan kota ini. Namun, terlepas dari pilihan itu, kiranya konsep hunian vertikal sudah waktunya untuk dipikirkan secara lebih serius. Langkah-langkah strategis untuk mewujudkan konsep itu, termasuk sosialisasinya, perlu dilakukan lebih dini agar publik lebih memahami konsep vertikal tersebut dengan lebih baik. Perencanaannya pun harus matang, terutama menyangkut aspek psikografis dan kultural penghuninya. Selamat bertugas, Cak Bambang!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: