MENERIMA RIZKI DENGAN QANAAH

Usaha mencari rezeki dilaksanakan atas dasar petunjuk bahwa kita diperbolehkan bekerja untuk urusan dunia seakan-akan seperti hiduup selamanya namun dalam urusan beribadah kita harus ingat bahwa setiap saat kita bisa saja mati secara mendadak. Dengan demikian ada keseimbangan, bahwa bekerja secara tekun dan profesional, namun menyerahkan sepenuhnya hasil pekerjaan atau usaha itu kepada kehendak Allah.

Perhatikan hadits qudsyi berikut ini: Artinya “ Hai anak Adam! Setiap hari, Kami (Allah) memberi engkau rezeki, tetapi engkau merasa cemas. Dan setiap hari umur engkau berkurang, tetapi engkau merasa girang. Engkau berada dalam kecukupan, tetapi engkau masih mencari juga apa yang merasa cukup dengan yang sedikit, dan tidak merasa puas dengan yang banyak”

Hadits tersebut memjelaskan kepada kita:

1. Setiap hari Allah memberi rezeki tapi manusia selalu cemas.

2. Setiap hari umur manusia berkurang tapi manusia merasa girang.

3. Manusia berada dalam kecukupan tapi masih mencari sesuatu yang membawa kedurhakaan.

4. Manusia tidak merasa cukup dengan yang sedikit dan tidak merasa puas dengan yang banyak.

Setiap makhluk yang dilahirkan di dunia, sudah ditentukan rizkinya masing-masing oleh Allah, bahkan hewan melata sekalipun, apalagi kita sebagai manusia. Kewajiban kita hanya mengoptimalkan usaha untuk menjemput rizki yang telah Allah sediakan tanpa memikirkan hasil yang diperoleh nantinya, karena itu urusan Allah dan Allah maha mengetahui segala apa yang kita usahakan.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam mencari rizki :

1. Jangan berpikir Hasil Akhir

Jika terlalu dipusingkan dengan memikirkan hasil akhir, maka tak pelak malah diri kita sendiri yang kian terbebani dengan berbagai macam persoalan atau bahkan membelenggu diri kita untuk lebih berkreasi atau berproduksi. Jika kita takut memulai suatu pekerjaan maka kita tidak akan pernah melakukan apapun dan hasil yang diinginkan hanya angan-angan. Untuk itu mulailah berikhtiar dan tetap bertawakal apapun hasil akhirnya.

2. Maksimalkan Ikhtiar Lahir Batin

Jika kita mendapatkan keberhasilan hanya bertumpu pada ikhtiar lahir tanpa di imbangi dengan ikhtiar batin berupa rasa tawakal yang tinggi pada Allah SWT, maka bukan mustahil orang tersebut akan dengan entengnya mengatakan kalau segala keberhasilan itu hanya bisa diraih dengan kerja keras dirinya tanpa keikutsertaan Allah SWT. Firman Allah dalam Surat Ath-Thalaaq ayat 4 :

“… Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya…”

3. Kemampuan Manusia Hanya Ikhtiar

Manusia hanya berkewajiban untuk ikhtiar, sedangkan hasil kita pasrahkan pada Allah. Rasa tawakal kita pada Allah maupun ikhtiar kita dalam bentuk kerja keras itu memang sangat dibutuhkan dan keduanya harus seimbang.

4. Setiap Orang Punya Garis Rejeki Sendiri

Percayalah Allah Maha Pengatur rejeki setiap umatnya. Sebab hanya Dialah Yang Maha Pengatur sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al Ankabut ayat 60:

“Berapa banyak binatang melata yang tidak sanggup membawa rejekinya (makanan kebutuhannya), Allahlah yang menjamin rejekinya, juga terhadapmu.”

Demikian juga dengan Firman Allah lainnya dalam Al Qur’an Surat Al Huud ayat 6:

“Tidak ada satu pun makhluk yang melata di bumi kecuali dicukupi rejekinya oleh Allah.”

Apa pun yang akan kita lakukan akan erat sekali kaitannya dengan apa yang akan kita peroleh sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur’an Surat An Najm ayat 39 – 41:

“Manusia tidak akan memperoleh sesuatu selain dari apa yang telah diusahakannya.”

Kita tidak boleh iri dengan apa yang diberikan Allah kepada orang lain, karena itu sudah menjadi ketetapannya dan mungkin bisa dijadikan motivasi untuk itu berikhtiar lebih giat. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 32 menegaskan :

Perlu diingat bahwa, sikap Qanaah dengan rizki yang kita terima adalah sikap akhir yang kita lakukan setelah mengoptimalkan ikhtiar. Kita harus bersyukur apapun dan berapapun jumlaha yang telah Allah berikan.

Orang beriman tetap rajin bekerja, berusaha mencari rezeki namun orang beriman tetap ingat bahwa ia mempunyai umur yang terbatas dan hendaknya disamping bekerja untuk urusan dunianya ia juga mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Akhirnya saya cukupkan sekian, kurang lebihnya mohon maaf sebesar-besarnya.

Bilahit taufiq wal hidayah

Wassalamu’alaikum wr….wb….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: