Banjir dan “Dosa” Pembangunan Kota: Salah Siapa?

Banjir boleh jadi merupakan fenomena yang lumrah di kota ini tiap kali musim penghujan tiba. Hampir di tiap sudut kota dapat kita jumpai “genangan air” tatkala hujan mulai mengguyur. Masyarakat pun sepertinya sudah cukup terbiasa. Mungkin kita sudah putus asa, hingga akhirnya pasrah dengan salah satu kenyataan buruk ini. Kalaupun ada yang marah, hanya muncul sebatas kata, caci maki dan umpatan, terutama kepada Pemkot Surabaya.

 

Pemerintah bukannya tidak peduli. Mereka tidak diam dan hanya berpangku tangan. Tiap tahun, upaya untuk mengatasi banjir selalu menjadi prioritas. Tak terhitung besarnya dana yang telah dikucurkan. Publik kota pun dapat dengan mudah menemukan berbagai pekerjaan perbaikan sistem saluran pembuangan air guna mengurangi kemungkinan banjir. Namun, banjir seolah-olah tak pernah pergi. Dia selalu hadir tanpa bisa kita hindari.

 

Tak mudah memang menyelesaikan persoalan banjir di kota ini, karena problem ini merupakan akumulasi dari berbagai permasalahan pembangunan kota sejak dahulu. Namun, tak adil juga jika kita hanya mengarahkan telunjuk kita kepada Pemkot Surabaya, karena kita pun, baik masyarakat maupun swasta, ikut memberi andil bagi rusaknya lingkungan Kota Surabaya.

 

Kini saatnya bagi seluruh publik Surabaya untuk bergandeng tangan mencari akar masalah berikut solusi guna mengatasi banjir. Bukan waktunya lagi untuk mencari kambing hitam atas masalah ini, karena banjir tidak pernah pandang bulu. Seakan-akan banjir adalah dosa pembangunan yang harus ditanggung bersama oleh publik kota ini.

 

Di sini, tugas terberat boleh jadi ada di pundak Pemkot Surabaya. Upaya untuk mengatasi banjir adalah tantangan sekaligus pekerjaan rumah Pemkot dari tahun ke tahun. Belajar dari berbagai upaya yang tidak kunjung membuahkan hasil, Pemkot perlu mengubah pola program yang selama ini dijalankan. Saatnya Pemkot melibatkan masyarakat lebih jauh dalam program ini.

 

Upaya ini dapat dimulai dengan transparansi program guna meningkatkan akuntabilitas Pemkot di mata masyarakat. Publik diberi sarana serta kemudahan untuk mengakses berbagai informasi tentang upaya yang dikembangkan Pemkot guna mengurangi banjir berikut besaran anggaran serta perkembangan program. Tidak berhenti di situ, pada tingkat tertentu masyarakat juga diikutsertakan secara aktif dalam program tersebut. Salah satu contohnya, yang paling sederhana, dengan mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kelancaran saluran air di sekitar tempat tinggalnya.

 

Pemerintah perlu memberi contoh terlebih dahulu. Barangkali keteladanan 15 ribu karyawan Pemkot di lingkungannya dapat memberi dampak yang berarti. Selama ini, Pemkot cenderung berorientasi untuk membangun dan membangun prasarana, namun kurang dalam pemeliharaannya. Di lain pihak, pembangunan yang tidak terkendali berperan besar mengurangi daerah serapan air yang dibutuhkan kota ini.

 

Inkonsistensi pemerintah ini boleh jadi ditanggapi secara negatif oleh publik kota, dengan ikut-ikutan cuek terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Inilah sekelumit realita yang harus dihadapi oleh pemimpin kota ini. Selamat bertugas, Cak Bambang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: