Setelah Surabaya Bangkit

Salam olahraga! Menjelang akhir abad 20, dunia olahraga Indonesia memasuki masa-masa suram. Prestasi kontingen merah putih di berbagai gelanggang internasional menorehkan cataan mengecewakan dengan segudang prestasi buruk olah raga nasional. Terakhir, pada pentas Sea Games ke-23 di Manila, Indonesia hanya mampu bertengger di posisi 5, dengan perolehan medali 49 emas, 73 perak, dan 83 perunggu. Padahal beberapa dekade sebelumnya, di ajang ini Indonesia selalu menjadi kampiun dan barometer pertumbuhan olah raga di kawasan Asia Tenggara.

Pasca kegagalan di Sea Games tersebut, banyak analisis yang berkembang mengurai penyebab keterpurukan prestasi olah raga nasional. Dari berbagai analisa itu, satu sebab yang cukup kuat mengemuka seputar kelemahan bangsa ini dalam pembinaan olahraga nasional yang dalam banyak hal jauh tertinggal di segala lini dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita, terutama soal pemanfaatan IPTEK olahraga. Pola pengembangan olahraga nasional masih bersifat tradisional, tak lebih dari rutinitas sebagai bagian ritual yang berorientasi pada pencapaian prestasi berdasarkan pengalaman masa lalu yang miskin inovasi.

Selain itu, kultur olahraga yang berkembang juga belum kondusif bagi pertumbuhan iklim olahraga yang profesional. Rendahnya apresiasi terhadap eksistensi dunia olahraga berdampak secara langsung pada kehidupan aktor olahraga tanah air. Kesulitan hidup membelit keseharian mereka. Kepastian akan masa depan masih menjadi tanda tanya besar. Lantas, bagaimana mereka dapat bertarung secara total mengembangkan olahraga jika olahraga belum bisa dijadikan profesi yang mampu menopang hidup?

Di tengah belitan persoalan itu, KONI kota Surabaya melakukan inovasi yang menggairahkan lewat program Surabaya Bangkit Menuju Kota Atlet. Program ini dicanangkan pertama kali pada tanggal 31 Mei 2004, bertepatan dengan hari jadi Kota Surabaya ke-711. Melalui kampanye Surabaya Bangkit, KONI Surabaya membangun pemahaman, bahwa untuk mencapai prestasi yang baik diperlukan persiapan yang matang, bertahap serta konsisten, dengan stamina yang tinggi bagi komitmen jangka panjang. Program ini melibatkan seluruh elemen kota ini, baik pemerintah, swasta, masyarakat, maupun pelaku olahraga itu sendiri.

Meskipun bukan merupakan program instan, hasil program Surabaya bangkit sudah mulai dirasakan oleh insan olahraga kota Surabaya. Buktinya, dalam waktu satu setengah tahun, performa olahraga di Surabaya menunjukkan peningkatan yang signifikan. Beberapa cabang, seperti pencak silat, menembak dan panahan yang berasal dari Puslatcab Junior telah mampu menorehkan prestasi di level nasional. Melihat keerhasilan program ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga pun menjadikannya pilot project dalam pembinaan atlet usia dini pada tahun 2006.

Surabaya Menggapai Prestasi

Kesuksesan program Surabaya Bangkit tidak diperoleh dengan mudah. Komitmen dan dedikasi yang tinggi guna memajukan olahraga diwujudkan melalui serangkian program yang telah dijalankan oleh KONI Surabaya secara terpadu. Beberapa kegiatan yang terangkum dalam program Surabaya Bangkit dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, program Pusat Latihan Cabang (Puslatcab), yang dicanangkan kali pertama pada 28 Desember 2004. Puslatcab ini dimaksudkan untuk melakukan regenerasi atlet secara sistemik. Ide dasar yang melatari program ini juga cukup sederhana, yaitu bagaimana menyiapkan atlet secara berlapis-lapis, mulai dari tingkat paling yunior hingga atlet yang betul-betul siap berlaga di berbagai arena. Untuk itu, masing-masing Pengcab dituntut untuk membentuk Puslatcab sendiri, sekaligus sebagai perwujudan semangat desentralisasi di bawah koordinasi KONI Surabaya.

Kedua, test fisik atlet yunior. Hakikat dari test fisik ini adalah adanya anggapan bahwa setiap orang memiliki potensi spesifik yang berbeda dari orang lain, berkaitan dengan kondisi biologis dan riwayat kesehatan atlet yang bersangkutan. Melalui test fisik itu akan dapat diketahui kemampuan dan daya tahan tubuh atlet. Sehingga bila dirasa ada kekurangan, para atlet tersebut akan mendapat porsi latihan tambahan sesuai dengan harapan yang diinginkan. Pelatih pun diminta untuk bertanggung jawab mengembalikan fisik atlet pada bentuk yang ideal.

Ketiga, tim monitoring Puslatcab, yang terdiri dari gabungan pengurus KONI Surabaya dan para mahasiswa Unesa Fakultas Ilmu Keolahragaan. Tim ini bertugas untuk melakukan monitoring dari satu Puslatcab ke Puslatcab lainnya guna mengetahui sampai sejauh mana perkembangan yang telah dicapai, berikut mengindentifikasi hambatan-hambatannya. Monitoring itu dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan sekali.

Keempat, pelatihan bagi pelatih. KONI Kota Surabaya sepenuhnya menyadari bahwa pelatih pun butuh latihan. Bagaimana mungkin mereka mampu melatih atlet kalau teknik, konsep dan metode untuk melatih itu sendiri tidak mereka kuasai? Melalui pelatihan bagi pelatih ini, KONI Kota Surabaya berharap dapat melahirkan pelatih yang handal, sekaligus melakukan kaderisasi atau regenerasi pelatih cabang olahraga. Diharapkan, para pelatih muda tidak lagi terpaku pada teori yang sudah mereka dapatkan semasa menjadi atlet semata, melainkan dapat berkembang dengan menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam teknik kepelatihan.

Kelima, penghargaan buat insan olahraga. Perjuangan atlet di medan laga olahraga telah membawa harum nama bangsa. Sampai sejauh ini, hanya ada dua kesempatan di mana bendera Merah putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan di negeri orang. Pertama, pada saat kunjungan resmi presiden, dan kedua, ketika atlet kita mampu menorehkan prestasi tertinggi pada ajang olahraga internasional tersebut. KONI Surabaya pun tidak menutup mata atas jerih payah para atlet berprestasi itu. Karenanya, KONI pun memberikan tali asih sebagai wujud keseriusan KONI Kota Surabaya dalam memperhatikan jasa-jasa mereka.

Keenam, perhatian bagi pelajar dan mahasiswa. Mungkin tak banyak orang yang menyadari kontribusi luar biasa yang telah diberikan pelajar dan mahasiswa dalam dunia olahraga, terlebih mengingat 70% olahragawan yang ada di Surabaya adalah pelajar dan mahasiswa. Karena itu, wajar jika KONI Surabaya memberikan perhatian tersendiri kepada mereka. Salah satunya, dengan membantu para atlet berprestasi itu memperoleh akses untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. KONI Surabaya pun menggandeng beberapa perguruan tinggi melalui Memorandum of Understanding (MoU) agar para atlet berprestasi itu dapat diterima tanpa test serta berbagai fasilitas lainnya. Beberapa perguruan tinggi yang telah menjalin kerjasama dengan KONI Surabaya di antaranya adalah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas WR. Supratman (Unipra), Universitas PGRI Adibuana (Unipa), Universitas Tujuhbelas Agustus (Untang), Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (Stikom), Universitas Narotama, Universitas Pembangunan Nasional (UPN), STIE Perbanas, dan Universitas Wijaya Kusuma (UWK). Selain itu, KONI Surabaya juga menandatangani MoU dengan Walikota Surabaya dalam rangka memberikan penghargaan dan kemudahan bagi atlet berprestasi yang berstatus siswa untuk bisa diterima ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi hingga tingkat sekolah atas (SLTA).

Ketujuh, fasilitas berolahraga. Mengobarkan semangat berolahraga tanpa penyediaan fasilitas yang memadai tentunya bagaikan menggantang asap. Memang, ini bukan tugas mudah, terlebih di kota Surabaya yang semakin langka ruang terbuka hijau. Dalam konstelasi yang rumit itu, KONI Surabaya melakukan terobosan dengan memanfaatkan peluang untuk memudahkan atlet dan insan olahraga lainnya tetap dapat berolahraga dengan baik. Salah satu terobosan itu ditempuh melalui kerjasama dengan berbagai instansi yang ada, baik institusi pendidikan, swasta, maupun pengelola venue olahraga lainnya, untuk memanfaatkan sarana olahraga yang dimiliki instansi itu demi kegiatan olahraga.

Kedelapan, Surabaya Sport Information Center. Akses informasi olahraga yang handal tentunya juga ikut mempengaruhi keberhasilan pengembangan olahraga itu sendiri. Menyadari kebutuhan akan lembaga penyedia informasi itu, KONI Surabaya bekerjasama dengan Stikom meluncurkan website www.konisurabaya.go.id. Lewat komunikasi internet itu, siapa saja akan dapat memperoleh informasi olahraga di Surabaya dengan cepat, akurat, dan mudah.

Membangkitkan Olahraga Daerah Lain

Program Surabaya Bangkit sesungguhnya bukan merupakan program yang rumit dan sulit. Bahkan, desain program ini cukup sederhana tapi terus berkesinambungan dan konsisten, sehingga setiap daerah dapat menirunya. Justru di sinilah kejelian KONI Surabaya dalam membaca peluang untuk melakukan sinergi antara kepentingan KONI, Pengcab, Pemkot, swasta, dan masyarakat.

Namun, mengembalikan kejayaan olahraga nasional tidak hanya dapat dilakukan di Surabaya. Kebersamaan serta sinergi dengan daerah-daerah lain tetap diperlukan demi hasil yang lebih besar. Program Surabaya Bangkit dapat dijadikan acuan bagi daerah-daerah lain untuk mengembangkan potensi olahraga mereka sesuai dengan karakteristik daerah tersebut. Program ini harus dilakukan dengan komitmen tinggi dan bukan hanya sebatas slogan. Jayalah olahragaku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: