Catatan Dibalik Serangan Flu Burung

Dr. Ir. H. Alijahbana, MA

Wabah flu burung yang mengguncang Asia akhirnya sampai juga ke Indonesia. Setelah China dan Vietnam, Indonesia menjadi negara ke tiga di Asia dengan jumlah korban terbesar. Merebaknya wabah ini akhirnya menjadi masalah nasional. Negara ditetapkan siaga satu. Kepanikan massa pun menyebar. Informasi merebak simpang siur, lengkap dengan bumbu-bumbu yang semakin menambah suram kasus flu burung tersebut.

Terlepas dari jumlah suspect penderita flu burung yang ditemukan, banyak di antara mereka yang berakhir dengan kematian, tampak betapa bangsa ini belum siap menanggulangi serangan wabah flu burung itu. Indonesia belum mampu membangun sebuah sistem terpadu di mana negara mengoptimalkan segala potensi bangsa yang ada guna menangani serangan wabah ini demi menekan kerugian warga negara yang lebih besar, tidak hanya jiwa dan harta semata, lebih dari itu efek psikologi massa yang telah ditimbulkannya.

Lihat saja kronologis perkembangan isu flu burung di tanah air. Ketika kali pertama wabah itu merambah China dan Vietnam, serta beberapa negara Indochina yang lain, pemerintah RI tidak segera membangun sistem peringatan dini guna memperkecil kemungkinan masuknya wabah flu burung ke Indonesia. Informasi yang diberikan kepada masyarakat pun terbatas, kalau tidak dapat dikatakan sedikit sekali. Masyarakat akhirnya hanya mendapat informasi dari media ditambah rumor dari mulut ke mulut yang boleh jadi lebih seram dari realita sebenarnya. Ketika akhirnya wabah itu ikut merambah Indonesia, respon yang diberikan pun cenderung terlambat dan tanpa rencana yang matang. Sosialisasi pada para peternak unggas, pun juga pada masyarakat yang rawan sentuhan dengan unggas tidak dilakukan dengan intens.

Yang muncul kemudian adalah kesan menutup-nutupi merebaknya serangan flu burung tersebut. Ketika isu itu akhirnya mengemuka pula, langkah-langkah pencegahan dengan membasmi hewan ternak, tidak hanya unggas, di kawasan yang dicurigai terjangkiti flu burung dipilih sebagai solusi. Kepanikan merebak. Kerugian materi pun menghampiri para pemilik hewan itu. Lihat saja misalnya kasus pemusnahan ternak babi di beberapa peternakan babi di daerah Jawa Barat yang dicurigai terjangkiti flu burung. Bagaimana mekanisme identifikasi hewan yang terjangkiti flu burung hingga kompensasi yang diterima para pemiliki hewan itu tak pernah jelas. Itu baru flu burung yang menyerang hewan, belum pada manusia yang juga setali tiga uang.

Sosialisasi dan komunikasi atas wabah ini tidak dilakukan dengan intensif. Komoditi unggas ikut menanggung akibatnya, di mana pasar unggas mencapai harga terendah. Masyarakat menjadi takut mencicipi segala macam makanan terkait unggas. Ada juga sebagian yang menganggap isu itu tak lebih dari isapan jempol belaka dan malah menjadikan kesempatan hancurnya harga unggas sebagai kesempatan emas. Akses masyarakat atas rumah sakit khusus bagi para penderita suspect flu burung juga terbatas. Penanganan yang diberikan pada para pasien suspect itu juga cenderung terlambat, sehingga tak jarang para suspect flu burung itu yang akhirnya meninggal dunia.

Kini, isu seputar flu burung perlahan-lahan mulai hilang dan dilupakan orang. Tetapi, apakah hal itu juga berarti Indonesia sudah lepas dari wabah flu burung itu? Atau jangan-jangan kasus itu hanya sekadar mengendap menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja? Wallahu ‘alam, sekali lagi informasi itu terputus dari telinga publik. Hebatnya lagi, publik kita pun dapat melupakan peristiwa itu begitu saja, seolah-olah kasus flu burung tak pernah menyerang Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: