Sistem Pembinaan dan Reformasi Bangunan Keolahragaan Nasional

Dr. Ir. Alisjahbana, MA

Pemerhati Olahraga, Mantan Ketua Umum KONI Surabaya

Dari tahun ke tahun, prestasi Indonesia dalam bidang olahraga terus menurun. Terakhir, kontingen Merah Putih harus pulang dengan tanpa hampa, tanpa segenggam pun medali yang diperoleh dari ajang Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis, cabang olahraga yang dahulunya adalah lumbung padi perolehan medali negeri ini. Apa yang salah dengan dunia keolahragaan Indonesia kontemporer?

Di antara berbagai persoalan yang membelit perkembangan olahraga Indonesia akhir-akhir ini, ada beberapa persoalan utama yang perlu menjadi catatan tersendiri. Di antaranya adalah sistem pembinaan olahraga yang dikembangkan selama ini, yang ternyata berkontribusi secara signifikan terhadap terpuruknya prestasi Indonesia. Banyak kalangan yang menilai kegagalan ini diperparah oleh kurang seriusnya pembinaan olahraga itu sendiri. Kita sudah jauh tertinggal di segala lini. Terutama soal pemanfaatan IPTEK olahraga. Pola pengembangan olahraga nasional masih bersifat tradisional, tak lebih dari rutinitas sebagai bagian ritual yang berorientasi pada pencapaian prestasi secara instan berdasarkan pengalaman masa lalu yang miskin inovasi.

Berpijak dari fakta tersebut, upaya untuk mengembalikan kejayaan olahraga nasional, tidak bisa tidak, harus dimulai melalui reformasi bangunan sistem keolahragaan tanah air, dengan penekanan utama pada pergeseran paradigma pembinaan olahraga yang tidak sekadar berorientasi pada pencapaian medali. Medali harus dianggap sebagai konsekuensi logis pembinaan olahraga yang tertata dan terintegrasi dalam sistem yang mapan.

Komponen utama sistem pembinaan
Dalam membangun sistem pembinaan olahraga tersebut, ada beberapa komponen utama yang perlu diperhatikan. Komponen-komponen utama tersebut terdiri atas: pertama, fungsi, yang mengarahkan dan menjadi penarik. Kedua, manajemen, untuk merencanakan, mengendalikan, menggerakkan, dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan sehingga tertuju pada tujuan guna meningkatkan efisiensi teknis dan ekonomis.

Ketiga, faktor ketenagaan, di mana saat ini isu nasional dalam pembinaan olahraga masih berkutat pada kelangkaan tenaga-tenaga profesional yang dipersiapkan secara khusus untuk membina olahraga melalui program pendidikan atau pelatihan.

Keempat, tenaga pembina. Beberapa permasalahan utama yang terkait dengan komponen ini berhubungan dengan belum adanya standar persyaratan tenaga profesional pembina olahraga yang dibangun secara sistemik. Pengakuan formal dari pemerintah terhadap jabatan ini masih minim, termasuk di dalamnya pengakuan terhadap status dan kompetensi mereka yang berimplikasi pada sistem penghargaan dan jaminan sosial yang mereka terima.

Kelima, atlet atau olahragawan. Tak jauh berbeda dengan komponen tenaga pembina, faktor-faktor klasik seperti penghargaan serta jaminan sosial yang mereka terima menjadi permasalahan serius yang ikut menentukan kegairahan pencapaian prestasi yang secara keseluruhan ikut menentukan upaya membangun profesionalisme olahraga nasional.

Keenam, struktur program dan isi, yang berkenaan dengan program-program umum serta kegiatan keolahraga yang dirumuskan dalam kalender olahraga nasional yang dapat meningkatkan mutu pembinaan. Ketujuh, sumber-sumber belajar, seperti buku petunjuk, buku ajar, rekaman film, dan lain-lain, termasuk di dalamnya informasi secara meluas tentang pronsip pembinaan yang disajikan secara praktis.

Ketujuh, metodologi dan prosedur kerja, yang mencakup pengembangan dan penerapan teknik serta metode pembinaan dan pemanfaatan temuan-temuan baru guna memaksimumkan efisiensi dan efektivitas pembinaan.

Kedelapan, evaluasi penelitian, untuk mendukung pengendalian program agar mencapai tujuan yang diharapkan, termasuk di dalamnya adalah pengendalian mutu, peningkatan efisiensi dan efektivitas pembinaan.

Kesembilan, dana. Problem utama yang membelit komponen ini berkisar pada sumber pendanaan yang masih minim serta alokasi dan pemanfaatannya secara tepat dan optimal.

Haornas sebagai bagian sistem pembinaan
Hari Olahraga Nasioal (Haornas) sesungguhnya dapat dimaknai sebagai peristiwa penting olahraga dalam rangka membangkitkan motivasi bangsa untuk berolahraga. Penyelenggaraan haornas sekaligus merupakan pernyataan kesungguhan sikap terhadap olahraga dan manifestasi dari cetusan aspirasi masyarakat serta komitmen politik yang kuat dari pemerintah bahwa olahraga merupakan bagian yang penting, baik dalam konteks pembangunan dan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu pula, peringatan haornas bukan saja berisi pernyataan retorik tentang kebermaknaan olahraga bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, Haornas harus didudukkan sebagai bagian dari sistem pembinaan olahraga yang mampu menggerakkan partisipasi olahraga dari seluruh lapisan masyarakat.

Surabaya Bangkit: cara Surabaya membina atlet
Dalam rangka pengembangan pembinaan atlet tersebut, ada baiknya kita belajar dari pengalaman KONI Surabaya. Di tengah iklim minus prestasi, KONI Surabaya berimprovisasi dengan mengembangkan program Surabaya Bangkit yang dideklarasikan dua tahun lalu. Program ini dicanangkan pertama kali pada tanggal 31 Mei 2004, bertepatan dengan hari jadi Kota Surabaya ke-711. Melalui kampanye Surabaya Bangkit, dibangun sebuah pemahaman bahwa untuk mencapai prestasi yang baik diperlukan persiapan yang matang, bertahap serta konsisten, dengan stamina yang tinggi bagi komitmen jangka panjang. Program ini melibatkan seluruh elemen kota, baik pemerintah, swasta, masyarakat, maupun pelaku olahraga itu sendiri.

Meskipun bukan merupakan program instan, dapat dikatakan jika hasil program ini sudah mulai dirasakan oleh insan olahraga kota Surabaya. Dalam waktu satu setengah tahun, performa olahraga di Surabaya menunjukkan peningkatan yang signifikan. Beberapa cabang, seperti pencak silat, menembak dan panahan yang berasal dari Puslatcab Junior telah mampu menorehkan prestasi di level nasional. Perolehan medali atlet Surabaya pada berbagai event olahraga, pada tahun 2005 meningkat sebesar 20% dibandingkan pada tahun 2004.

Ada banyak program yang dikembangkan KONI Surabaya dalam rangka pembinaan atlet itu. Pertama, pengembangan Graha Surabaya Bangkit sebagai rumah bagi para olahragawan Surabaya. Dari bangunan yang sederhana itu, beragam persoalan olahraga di Surabaya didiskusikan dan dicari solusi terbaiknya. Dari gedung itu pula para atlet dilepas untuk berlaga diberbagai event, membawa panji Surabaya, serta penghargaan bagi para atlet berprestasi diberikan.

Kedua, membangun relasi yang harmonis dengan orang tua atlet berprestasi serta lembaga-lembaga pendidikan tempat para atlet tersebut menimba ilmu. Melaui sinergi tersebut, diharapkan para atlet Surabaya tidak hanya berprestasi di arena olahraga namun juga memiliki prestasi yang membanggakan di bidang akademis. Di sini, dukungan orang tua memiliki arti yang besar bagi kemajuan olahraga atlet itu sendiri.

Dari pengalaman yang ada menunjukkan jika upaya menjalin relasi yang harmonis itu tak luput dari berbagai tantangan. Keragu-raguan orang tua bahwa profesi olahragawan dapat menopang kehidupan anak-anak mereka, salah satunya. Persepsi ini bukan hal yang sederhana untuk diluruskan. Belum lagi sikap beberapa sekolah yang masih memandang dunia olahraga sebelah mata. Para atlet pun hanya diberi pilihan antara olahraga atau sekolah.

Untuk menyiasati tantangan ini, koordinasi dengan Diknas dan sekolah-sekolah harus dilakukan tanpa henti. Hasilnya, di sebagian besar institusi pendidikan Surabaya mulai terbangun kesadaran betapa pentingnya prestasi olahraga itu. Terlebih, jika dikaitkan dengan UU Sistem Keolahragaan Nasional yang memperkenalkan tiga jenis olahraga: olahraga pendidikan, olahraga prestasi, dan olahraga rekreasi. Hasilnya, beberapa sekolah telah memberikan bentuk perhatian yang istimewa kepada pengembangan olahraga, seperti program pendidikan olahraga yang dikembangkan di SMP Muhammaddiyah 2 dan SMA 2 Surabaya.

Ketiga, upaya sistematis untuk merubah persepsi pola instan dalam sistem pembinaan. Hal ini berkaitan dengan persepsi yang dianut oleh beberapa kalangan olahraga yang berupaya menggapai prestasi secara instan. Cara pandang yang demikian berakar dari pengalaman masa lalu. Merubah pandangan ini merupakan sebuah perjuangan tersendiri. Di sinilah letak peran teknologi. Karena itu, kerjasama dengan lembaga-lembaga pengembangan IPTEK olahraga tidak dapat dikesampingkan. Dalam kasus KONI Surabaya, kerjasama itu dijalin dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Keempat, memberi akses yang lebih besar bagi para atlet untuk mengembangkan prestasi. Dalam konteks ini, kendala utama sebagian besar berwujud keterbatasan fasilitas olahraga dan pendanaan berbagai event olahraga. Untuk menyiasati kondisi ini, dapat ditempuh dengan menggandeng berbagai venues dan perguruan tinggi yang memiliki fasilitas olahraga. Melalui kerjasama ini berlangsung optimalisasi pemanfaatan fasilitas olahraga tersebut, sekaligus sebagai wahana untuk memperkenalkan venues dan perguruan tinggi itu kepada masyarakat luas melalui aktivitas olahraga yang diselenggarakan di sana.

Kelima, mengupayakan bantuan beasiswa bagi para atlet yang tengah menimba ilmu di bangku sekolah. Dalam kerangka tersebut, KONI Surabaya menjalin kerjasama dengan empat belas perguruan tinggi untuk memberi peluang yang lebih besar kepada para atlet berprestasi guna memperoleh akses pendidikan yang lebih baik secara cuma-cuma. Dengan adanya beasiswa pendidikan tersebut, kesempatan para atlet membangun masa depan mereka semakin terbuka lebar. Semuanya berpulang kepada para atlet yang memperoleh beasiswa itu untuk memanfaatkan kesempatan emas yang mereka peroleh dengan sebaik-baiknya.

Keenam, pemanfaatan teknologi informasi sebagai media komunikasi bagi pengembangan dunia olahraga. Untuk mendukung program ini, KONI Surabaya menjalin kerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (Stikom) Surabaya dalam pembuatan website KONI Surabaya. Informasi yang disajikan di dalam situs ersebut selalu di-up date agar dapat berperan optimal sebagai jendela informasi dan forum komunikasi tentang perkembangan olahraga.

Inovasi yang dilakukan oleh KONI Surabaya hanyalah salah satu bentuk upaya pembinaan atlet. Di luar program tersebut, sesungguhnya masih terbuka peluang yang besar bagi inovasi-inovasi lainnya dengan pola-pola yang beragam. Namun, satu hal yang patut dipahami adalah bahwa upaya pembinaan atlet adalah sebuah program yang paling mendasar dalam pengembangan olahraga. Dan, program ini menuntut konsistensi sera pelibatan semua pihak, baik pemerintah, swasta, masyarakat awam dan pelaku olahraga itu sendiri. Hanya dengan kerjasama yang sinergi dari kesemua unsur tersebut, kejayaan olahraga tanah air dapat kita rebut kembali. Salam Olahraga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: