Problematika Pengelolan Darah

Darah memiliki arti yang vital bagi kelangsungan hidup organisme. Itu karena darah dan komponennya berfungsi sebagai life saving therarapy atau replacement therapy belum dapat diganti dengan bahan atau obat yang lain. Oleh sebab itu pula sebabnya, keberadaan Unit Transfusi Darah (UTD) sebagai unit pelayanan penunjang dalam pengobatan dan pemulihan kesehatan tidak dapat diabaikan begitu saja. Namun, pengelolaan darah tersebut ternyata tidaklah sederhana, tidak sekadar berhenti hingga pada ketersediaan stok darah. Kualitas dan keamanan darah juga perlu mendapat perhatian. Karena itu, dalam pengelolaan darah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, kualitas. Darah yang berkualitas untuk ditransfusikan haruslah sesuai dengan tujuan transfusi dan selalu konsisten dalam setiap produksinya. Kadar bioaktif dan hemoglobin (Hb) dalam darah harus sesuai dengan kebutuhan pasien. Kantong darah juga harus bebas dari kontaminasi. Teknis pengambilan darah juga perlu mendapat perhatian agar darah tidak terkontaminasi bakteria/kuman.

Kedua, penerapan sistem jaminan mutu dan sistem mutu dalam operasionalisasi UTD. Jaminan mutu adalah suatu sistem yang mengatur bagaimana suatu upaya dapat dilaksanakan sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan yang dibutuhkan. Dalam upaya kesehatan transfusi darah, setiap pasien yang menerima transfusi darah mendapatkan darah yang sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan untuk dapat menyembuhkan penderitaannya.

Ketiga, keamanan darah. Kualitas dan kemanan darah beserta komponennya harus dijamin melalui proses sejak dari seleksi donor sampai ketika darah diberikan kepada pasien. Uji saring darah menjadi amat vital untuk menghindari infeksi penyakit yang menular melalui transfusi darah seperti HIV/AIDS, hepatitis B dan C, syphilis, hingga infeksi lainnya seperti malaria dan Chagas.

Keempat, seleksi donor. Seleksi donor harus dilakukan secara ketat dan teliti karena pemilihan donor yang salah akan merugikan semua pihak. UTD pun akan terbebani dengan pekerjaan yang sebetulnya tidak perlu. Pemusnahan darah yang tidak memenuhi syarat juga telah mengirbankan bahan-bahan serta proses-proses pemeriksaan darah yang cukup mahal.

Kelima, penyadapan darah. Teknis penyadapan darah penting artinya, meskipun acapkali disepelekan, guna menjamin mutu darah, sekaligus menghindarkan darah dari kontaminasi kuman, bakteri, dan hal-hal lain yang dapat menyebabkan darah tercemar. upaya pencampuran dan volume darah dalam kantong juga harus dilakukan secara benar untuk mencegah koagulasi (penggumpalan) atau hymolisis (hancur) yang akan mengurangi mutu dan bahkan bisa merusak darah.

Keenam, penyimpanan darah. Penyimpanan darah pun tak boleh disepelekan. Temperatur yang benar sesuai jenis darah harus dijaga secara ketat dengan memonitor temperatur secara berkala paling sedikit 2-3 kali dalam sehari. Pengaturan penyimpanan darah juga dilakukan dengan mengelompokkan per golongan darah untuk memudahkan pencarian, serta memilahkan darah yang belum diuiji saring dengan yang sudah diuji saring.

Ketujuh, uji saring darah. Uji saring dilakukan untuk menghindari Penyakit Menular Melalui Transfusi Darah. Mikroorganisme yang menjadi penyebab infkesi virus merupakan penyebab yang paling umum ditularkan melalui transfusi darah. Dalam proses uji darah tersebut, ada tiga hal yang patut diperhatiakn, yaitu: sampel darah yang benar, teknologi pemeriksaan, dan pemilihan metoda uji saring.

Kedelapan, pengolahan komponen darah. Komponen darah merupakan bagian darah yang sering dipergunakan. Permintaan dokter rumah sakit untuk transfusi darah mengarah kepada komponen darah ini. Karena itu, UTD dituntut untuk mengantisipasi clinical use of blood tersebut secara tepat dan sesuai.

Kesembilan, uji silang darah. Disebut juga tes kompabilitas yang bertujuan untuk memastikan bahwa darah donor tidak akan menimbulkan reaksi apapun pada pasien, dan darah yang diberikan yang diberikan pada pasien dapat hidup secara maksimal setelah diberikan. Sering terjadi pada test ini yang kesulitan menemukan darah yang cocok walaupun golongan darahnya sama karena adanya antibodi yang langka pada pasien. Untuk itu, tes dilakukan berulang-ulang oleh bagian referal hingga ditemukan antibodi penyebab penolakan tersebut.

Kesepuluh, hygiene sanitasi. Persyaratan ruangan temnpat kerja yang menentukan keadaan area kerja juga berpengaruh pada penciptaan proses jaminan mutu.

Kesebelas, validasi dan kalibrasi. Validasi dilakukan terhadap reagen yang dipakai untuk mendapatkan hasil yang akurat. Sementara kalibrasi terhadap alat juga penting dilakukan secara teratur dengan interval waktu sesuai dengan jenis alat tersebut.

Kedua belas, tata ruang gedung. Tata ruang gedung harus memberi kenyamanan kepada pendonor, konsumen darah, dan petugas itu sendiri.

Kedua belas faktor di atas adalah beberapa hal yang sesungguhnya dapat menjadi problematika tersendiri dalam pengelolaan unit transfusi darah (UTD) sebagai salah satu unit layanan Palang Merah Indonesia (PMI) guna memenuhi tugas utamanya menjamin ketersediaan serta kualitas darah. (ali_sj)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: