Negeri Rawan Bencana

Dr. Ir. Alisjahbana, MA
Betapa berisikonya tinggal di Indoensia. Negeri ini begitu rawan bencana, dari musibah karena faktor alam, seperti bencana alam, karena faktor kelalaian manusia, seperti kebakaran, hingga serbuan wabah penyakit dari luar, seperti kasus flu burung. Kondisi yang rentan tersebut ternyata tak mampu membuat rakyat negeri ini kian hati-hati dan waspada.

Lihat saja pada bagaimana rakyat kita bereaksi terhadap serbuah flu burung. Di Surabaya misalnya, yang pada beberapa bulan yang lalu diguncang oleh isu flu burung. Namun, tak berapa lama ketakutan terhadap virus A1 itu menghilang seiring dengan kian redanya pemberitaan seputar serangan virus tersebut. Dan untuk beberapa waktu, warga kota pun dapat bernapas lega dan kembali bergumul dengan hewan-hewan unggas peliharaan mereka.

Namun siapa sangka, tak lama berselang, wabah yang sama kembali menghantui publik kota. Kali ini Surabaya oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, disebut sebagai salah satu wilayah potensial penyebaran flu burung. Bahkan, Surabaya menempati peringkat kedua penyebaran virus flu burung terbanyak di Jawa Timur sesudah Tulungagung (Jawa Pos, 28/8).

Ironisnya, upaya untuk membendung serangan virus itu pun tidak mudah. Perilaku warga yang masih minim dalam hal kesadaran terhadap keselamatan menjadi salah satu biangnya. Selain itu, terpencarnya kediaman warga yang memelihara ayam dan kebiasaan membiarkan ayam peliharaan lepas begitu saja, kian menyulitkan upaya vaksinasi unggas. Akibatnya, berbagai unggas peliharaan warga kota sangat rentan tertular dan menularkan virus A1.

Apa yang terjadi dalam penanganan wabah flu burung di kota ini sesunggguhnya tak jauh berbeda dengan realita yang terjadi di Indonesia pada umumnya dalam menyikapi wabah ini. Indonesia, dan juga Surabaya, belum mampu membangun sebuah sistem terpadu yang dapat mengoptimalkan segala potensi guna menangani serangan wabah ini demi menekan kerugian yang lebih besar, tidak hanya jiwa dan harta semata, lebih dari itu efek psikologi massa yang telah ditimbulkannya. Tak heran pula jika 30 dari 33 provinsi telah terjangkiti flu burung (Kompas, 17/09).

Respon yang diberikan pun cenderung terlambat dan tanpa rencana yang matang. Penanganan wabah flu burung juga melahirkan dilema tersendiri. Pada satu sisi, virus flu burung sangat ditakuti karena ikut merenggut korban jiwa. Namun, di sisi lain, ancaman virus ini sama sekali diabaikan ketika terbentur kepentingan ekonomi warga.

Namun, dilema itu sesungguhnya dapat diminimalisasi melalui sosialisasi yang intens dan berkelanjutan kepada warga, terutama dalam rangka membangun kesadaran publik terhadap bahaya. Akan tetapi, upaya ini tampaknya belum menjadi prioritas. Hebatnya lagi, publik dan juga pemerintah sepertinya dapat melupakan berbagai peristiwa itu begitu saja, seolah-olah kasus flu burung tak pernah menyerang. Padahal, serbuan virus tersebut masih mengintai negeri ini untuk sewaktu-waktu kembali menyerang. Siapkah kita membendungnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: